Warisan Luhur

Sabdo Palon
“Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.”

zeth is offline QUOTE

Home Berita / Informasi Kolom Umat Perbandingan Agama Ida Pedanda Gede Made Pidada Keniten, Seorang Pandita Reformis

Ida Pedanda Gede Made Pidada Keniten, Seorang Pandita Reformis
Dengan mencakupkan tangan di atas kepala saya mempersembahkan bhakti saya kepada Beliau yang sudah mencapai Siddha Dewata, Ida Pedanda Gde Made Pidada Keniten, semoga beliau senantiasa menyinari hati dan pikiran saya menuju jalan yang terang. Dulu di tahun 1960-an saya mengenal seorang pandita berpakaian militer yang oleh masyarakat dikenal dengan Pedanda Letnan yang datang ke kampung kami di Karangasem, Bali, memimpin upacara Palebon (Ngaben) seorang anggota TNI-AD yang gugur di Palopo, dan lama kemudian baru saya tahu beliau adalah Ida Pedanda Gede Wayan Sidemen. Ketika saya mulai kuliah di Institut Hindu Dharma pada tahun 1973, pada saat acara Mahasisya Upanayana (pawintenan), upacara itu dipimpin oleh Ida Pedanda Gde Made Pidada Keniten yang ternyata seorang anggota TNI-AD dengan pangkat Mayor Tituler.
Kedua Ida Pedanda yang anggota TNI-AD tersebut adalah dua bersaudara yang mengabdikan diri dalam dunia rawatan rohani Hindu di TNI-AD, leluhur beliau berasal dari Karangasem, namun telah lama dan beliau lahir di kota Mataram. Kedua pandita tersebut sangat berjasa bagi umat Hindu di Indonesia, karena keduanya pernah duduk dalam beberapa periode kepengurusan, pengurus harian dan juga sebagai anggota Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat.

Perkenalan dengan Almarhum Ida Pedanda Gde Made Pidada Keniten sejak saat tersebut berlanjut, karena ternyata beliau memberi kesempatan kepada saya untuk turut mengabdi sebagai tenaga honorer di Rohindam (Rawatan Rohani Hindu Kodam) XVI/Udayana. Ketika beliau ditarik ke Jakarta menggantikan kakak beliau, Letnan Kolonel (Tit) Ida Pedanda Gde Wayan Sidemen sebagai Kadisroh Hindu Mabes TNIAD, saya sedang menyelesaikan kuliah di Institut Hindu Dharma, kakak kelas saya di PGA Hindu Negeri Denpasar, Putu Widnya mengikuti beliau ke Jakarta bersama beberapa teman dan yang bersangkutan selesai mengikuti kuliah ekstension di FH Ul, meninggalkan Disroh TNI-AD dan masuk sebagai PNS di Dep. Kehakiman, kini kakak Putu Widnya sebagai Ketua Pengadilan Negeri Tabanan.

Ketika baru menginjakkan kaki di Rohindam XVI/Udayana, Ida Pedanda Gde Made Pidada Keniten langsung meminta saya mengikuti beliau memberikan pembinaan mental (ceramah agama Hindu) di Paldam (Peralatan Kodam) Udayana yang terletak di Jalan Gunung Agung, Denpasar, ternyata beliau hanya memperkenalkan saya kepada peserta ceramah, yakni anggota TNI-AD, pegawai sipil Kodam dan keluarganya yang memenuhi aula kantor tersebut. Saat itu benar-benar saya buta tentang kepangkatan di TNI-AD atau pangkat militer pada umumnya. Saya tidak mengerti pangkat yang mana lebih tinggi dan mana yang lebih rendah, bahkan Sersan Mayor saya kira pangkat yang tertinggi di lingkungan TNI-AD, karena banyak strip di pundaknya. Saya diminta langsung memberikan ceramah dan betapa terkejut, gemetar dan penuh keragu-raguan saya berceramah tentang tujuan hidup beragama. Saya tidak menduga cemarah tersebut berlangsung mengesankan dan seorang Letkol saat itu, meminta kepada Ida Pedanda supaya menugaskan saya di sana yang wajib datang setiap minggu sekali untuk bereeramah di kantor tersebut. Ida Pedanda nampaknya puas dengan penampilan saya yang benar-benar grogi saat itu.

Dalam pergaulan sehari-hari beliau sangat ramah, selalu menanyakan kesehatan keluarga, tentang studi dan sebagainya dan ketika sedikit ada waktu untuk berdiskusi, beliau selalu membuka diri untuk berdiskusi dengan staf dan saya beruntung sekali, banyak hal yang dapat saya tanyakan kepada beliau untuk menambah wawasan kami yang baru tingkat 1 (kini semester I) di Fakultas Agama dan Kebudayaan, Institut Hindu Dharma Denpasar saat itu. Satu pertanyaan yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika saya tanyakan tentang Surya atau Siwa dan hubungannya dengan Sisya. Saya diberi tahu oleh orang-orang tua saya jangan sampai meninggalkan Surya, jangan pindah ma-Surya dan jangan mohon Tirtha dari pandita lainnya kecuali Surya kita! Teryata beliau sangat jauh membuka wawasan saya tentang hal itu. Jawaban beliau hampir sama dengan jawaban guru saya di PGA Hindu Negeri Denpasar (1970), almarhum 1 Gusti Bagus Sugriwa, seorang tokoh Hindu yang berjuang habis-habisan agar agama Hindu diakui oleh Pemerintah R.I. dan diberi fasilitas yang sama dengan agama lainnya di Departemen Agama. Kini almarhum 1 Gusti Bagus Sugriwa diabadikan melalui patung beliau yang dibangun oleh para siswa beliau, ketika Bapak Drs. 1 Ketut Wiana sebagai Kepala PGA Hindu Negeri Denpasar, tahun 1982 dan ketika PGA Hindu itu dibubarkan, 3 tahun kemudian (1993) baru statusnya ditingkatkan menjadi APGAH N Denpasar dan pada tahun 1999 menjadi STAH Negeri Denpasar. Kini patung almarhum 1 Gusti Bagus Sugriwa berdiri tegak di STAH Negeri Denpasar memberi inspirasi kepada para dosen dan mahasiswa.

Kembali kepada jawaban Ida Pedanda Gde Made Pidada Keniten. Beliau secara tegas menyatakan pengertian tentang Surya atau Siwa. Siapa saja yang memberi pencerahan kepada anda, dialah yang berhak disebut Surya atau Siwa. Tidak masalah orang pindah atau berhenti ma-Surya, bila Surya tersebut tidak pernah memberi pencerahan kepada sisyanya. Saya benar-benar merasa plong. Sejak saat itu baru saya memahami tentang kedudukan dan fungsi pandita Hindu.

Salah satu tindakan reformis yang beliau lakukan adalah menobatkan 11 orang pandita dari etnis Jawa di Provinsi Jawa Timur dan menurut beliau, ketika menghadiri sebuah Paruman Sulinggih (Paruman Sabha Pandita) di Lombok dan Bali, beliau sering dikritik oleh sesama sulinggih, terutama mereka yang berasal dari keturunan Dang Hyang Dwijendra Kenapa beliau berani men-diksa mereka yang bukan keturunan Brahmana dan tidak jelas asal-usulnya? Berbagai pertanyaan gencar ditujukan kepada beliau, namun beliau dengan senyum manis dan lemah lembut menjawab, bahwa tidak ada sastra atau Veda dan lontar-lontar di Bali yang menyatakan pandita itu lahir dari rahim seorang pandita. Bila kedua orang tuanya pandita, anak yang dilahirkan oleh pandita itu tidak secara otomatis menjadi pandita. Pandita selalu lahir dari sastra Veda melalui upacara “Diksa” dengan merujuk kitab Siwa Sasana, Silakrama dan lain-lain dan menurut keputusan Mahasabha II tahun 1968, secara tegas dinyatakan, siapa saja berhak dan dapat menjadi seorang pandita Hindu sesuai dengan ketentuan sastra agama yang berlaku, dengan tidak memandang dari keluarga atau keturunan siapa, seseorang yang memiliki kemampuan untuk itu dapat di-Diksa manjadi seorang pandita Hindu.

Berjanji Ngiring Pekayunan (mengikuti kehendaknya)

Dalam suatu kesempatan di tahun 1983 beliau datang dari Jakarta ke Geria Tegeh Amlapura, geria asal beliau dan melalui seorang utusan beliau memanggil saya untuk segera menghadap. Sebagai bawahan yang patuh (pangkat militer saya waktu itu Letnan Satu) saya dengan penuh hormat dan bhakti menghadap beliau. Ternyata, beliau telah menunggu, kami hanya berdua di ruangan beliau. Di luar dugaan beliau berkata: “Made, Beli (kakak) segera akan mati! Beli menginginkan Made menjadi anak saya! Anak yang saya maksud melebihi anak kandung saya. Made akan Beli jadikan putra dalam dharma! Tegasnya akan saya jadikan anda seorang pandita Hindu, akan saya Diksa nanti bersamaan dengan menantu dan anak-anak saya (putra dalam dharma) lainnya! Beli minta kesediaan Made! Anda tidak perlu bicara lagi karena saya tahu siapa sebenarnya dalam diri anda! Nanti, bila anda bersedia, saya tidak akan memberi nama Ida Pedanda atau yang lainnya seperti di Bali, tetapi akan saya beri bhiseka “pandita” seperti aslinya tersebut dalam sastra Hindu!”. Saya terkejut, gemetar, khelu tidak bias menjawab. Air mata saya berlinang di pipi tidak dapat menahan diri! Ampura Ratu Ida Pedanda (mohon maaf), saya junjung karunia Ida Pedanda di atas kepala saya, namun kini dengan kerendahan hati saya belum ngiring! Nanti sekiranya memungkinkan kami ngiring pikayun Pelungguh Ratu Pedanda. Beliau berkata lesu: “Yaah, Beli cepat akan kembali ke alam sana”!. Mohon maaf kami saat ini belum mampu mengikutinya.

Demikian ketika penobatan Ida Pedanda Gde Ketut Sebali Tianyar Arimbawa, kini Dharma Adhyaksa Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, saya hadir di tempat upacara dengan menundukkan kepala tidak berani memandang wajah almarhum dan dalam hati kecil hanya berdoa semoga karunianya itu pada saatnya saya dapat realisasikan. Hal ini cukup lama saya pendam, ketika Bapak Kolonel Inf N. Dana meminta saya menulis tentang beliau, Ida Pedanda Gde Made Keniten yang kini sudah amoring acinthya, sudah mencapai siddhadewata, saya sampaikan hal ini sebagai upaya untuk memperteguh karunia beliau yang sangat maju dan benar-benar seorang pandita Hindu yang reformis dan hal ini dapat saya bandingkan dengan Swami Dayananda Saraswati, pendiri Arya Samaj dan Gurukula Kangri di India, yang benar-benar reformis, yang mampu mengembalikan iman Hindu yang saat itu banyak umat beralih agama karena penjajah Inggris dengan berbagai iming-iming, Swami Dayananda memproklamirkan, setiap orang dapat menjadi seorang Brahmana bila telah didiksa melalui pemberian benang Upawita dan mengikuti upacara Agnihotra. Peryataan beliau banyak mendapat sambutan dan ribuan orang kembali mengikuti ajaran agama Hindu, menjadi Brahmana Arya Samaj dengan upacara yang sangat sederhana dan setiap hari melaksanakan Agnihotra. Ratusan sekolah dan perguruan tinggi bernafaskan Hindu didirikan, asram-asram dengan pabrik farmamsi, mengelola pertanian yang maju, memberi pendidikan manajemen, bisnis dan sebagainya tersebar hampir di seluruh India. Demikian pula pelajaran bahasa Sanskerta dan kitab suci Veda selalu dan mesti diajarkan untuk dipahami dan diamalkan, karena dalam kitab suci Veda terdapat berbagai cabang ilmu pengetahuan baik spiritual maupun untuk kehidupan duniawi berdasarkan Dharma
(I Made Titib)

Babadbali.com
Isi Singkat Babad Pasek Bandesa

Diceriterakan keturunan I Gede Manik Mas, berempat di Jembrana di Banjar Wani Tegeh yang asalnya dari Majapahit.
Adalah keturunannya yang berada di Pujungan bernama I Gede Tobya. Ada juga di Beratan yang bernama I Gede Jagra. Senang lah hati Ida Ayu Swabawa, yang berstana di Pulaki dipuja oleh orang Sumedang. Yang ada di Pujungan dan Beratan dengan tekun mempelajari ajaran Canting Mas, Siwer Mas seperti Weda Sulambang Gni, Pasupati Rancana.
Inilah yang diterapkan oleh I Gede Bandesa Mas. Bila mana ada keturunan Ki Bandesa Mas, pandai dengan ajaran agar diimbangi dengan perbuatan.
Diceriterakan Ida Bhatara Danghyang Dwijendra pergi ke Gelgel, diiringkan oleh turunan Ki Gede Bandesa Mas. Kemudian sebelum Ida ke Gelgel, di mana putrinya Dewa Ayu Swabawa disembunyikan, lalu dikutuknya penduduk Pulaki hingga lenyap.
Tersebut pemerintahan Dalem di Gelgel, datanglah Sri Aji Kepakisan. Beliau lah mendirikan Gelgel, dengan para Punggawa, Manca, dan Prajuru yang dilengkapi dengan Pendeta Siwa Buddha dan Bhujangga. Pengiring dari Sri Kresna Kepakisan adalah Arya Kuta Waringin, Sira Arya Manguri, Sira Arya Dalancang, dan Sira Arya Guda dan yang diandalkan adalah Ki Patih Ularan, Ki Pangeran Pasek Gelgel, Ki Gede Bandesa dan juga para prajurit sekalian.
Kemudian berkata lah Ida Dalem kepada Ki Pangeran Pasek.
Oleh karena baktinya Ki Bandesa terhadap sira Kresna Kepakisan, maka diberi jabatan Ki Bandesa Mas.
Adapun para putra beliau seperti Ki Gusti Agung, Ki Gusti Nginte, Ki Gusti Jelantik, Ki Gusti Pinatih, Ki Gusti Dawuh, Ki Gusti Lanang, Ki Gusti Tapa Lare dan sebagainya. Juga para pangeran, Ki Pasek Gelgel, Ki Gede Bandesa Manik Mas, Ki Gede Dangka, Ki Gede Gaduh, Ki Gede Tangkas Agung Duryan, I Gede Kabayan, Ki Gede Pamregan, dan Ki Gede Abyan Tubuh.

Ada lagi keturunan dari mempelai istri yang bernama Ki Gede Pulasari, Ki Gede Babandem, Ki Gede Salahin, Ki Gde Kamoning, dan Ki Gede Suruh. Keturunan Ki Pasek Gelgel sebanyak 8 orang seperti Pangeran Gelgel, Pangeran Abyan Tubuh, Pangeran Selat, Pangeran Sibetan, Pangeran Dangan, Pangeran Batur dan Pangeran Anyaran. Juga diceritakan Warga Pasek Bali Mula (warga pasek sebelum kedatangan Sri Kresna Kepakisan ke Bali), yaitu Pasek Kedisan, Pasek Sukawana, Pasek Taro, Pasek Celagi, Ki Gede Bandesa Gelgel menurunkan Pangeran Bandesa Gelgel dan Pangeran Manik Mas. Ki Pangeran Gelgel berputra Ki Abyan Tubuh, Ki Gede Selat dan Ki Gede Samping. Ki Pangeran Manik Mas menurunkan Ki Gede Manik Mas dan Ki Gede Pasar Badung, Ki Gusti Agung bersama Ki Gusti Kaleran bertentangan dengan Dalem dan membuat daya-upaya bersama Ki Gusti Lanang Jungutan. Dan Ki Gusti Tapa Lare dan para putranya sehingga daya upaya ini yang menyebabkan banyak para Arya di Gelgel. Dan juga para Pangeran sekalian seperti Ki Gede Pasek Gelgel, Ki Gede Bandesa Manik Mas, Ki Gede Dangka, Ki Gede Gaduh, Ki Gede Tangkas Agung Duryan, Ki Gede Kubhayan, Ki Gede Pamregan, Ki Gede Abyan Tubuh.
Ada pula Pangeran dari Pradana (keluarga wanita) dari Sri Aji Bali seperti Ki Gede Bala Pulasari, Ki Gede Babandem, Ki Gede Salahin, Ki Gede Kamoning dan Ki Gede Suruh. Demikian banyaknya keluarga Pangeran.

Diceriterakan keturunan Ki Pasek Gelgel yang menurunkan 8 orang- yaitu Pangeran Gelgel, Pangeran Abyan Tubuh, Pangeran Slat, Pangeran Sibetan, Pangeran Dangan, Pangeran Batur dan Pangeran Anyaran.
Ada juga Warga Pasek Bali Mula (asli) yaitu pasek Kedisan, pasek Sukawana, Pasek Taro, Pasek Celagi, dan Pasek Kayu Selem. Putra dari Ki Gede Bandesa Gelgel adalah Pangeran Bandesa Gelgel dan Pangeran Manik Mas. Pangeran Gelgel kemudian menurunkan Ki Gede Abyan Tubuh, Ki Gede Selat dan Ki Gede Samping. Sedangkan Ki Pangeran Manik Mas berputra 2 orang yang bernama Ki Gede Manik Mas dan Ki Gede Pasar Badung.
Ki Gusti Agung, Ki Gusti Kaleran, dan para manca membuat kekacauan dan menentang Ida Sri Kresna Kapakisan dengan jalan bersekongkol dengan raja Karangasem dan para putra-putranya sekalian. Kemudian Ida Sang Aji Bali diutus ke Besakih dengan melihat kahyangan yang ada di Bali. Para putra Pasek Bali Mula ada yang di Payangan, di Carangsari, di Desa Tegal Lalang, di Blahbatuh, ada di Negari, di Sibang, di Lukluk di Batu Sepih Badung, Marga, Penebel, Wanasari dan sebagainya.
Putra Ki Pasek Kubhayan ada di Batur, Tabanan, Baturiti, Pajaten, di Kerambitan, Antasari, dan Sanda. Dan yang di Tabanan menurunkan di Gobleg.
Putra Ki Gede Abyan Tubuh, mengungsi ke Pandak di Badung, Sibang Beranjingan, Bajra, Sanda Buleleng dan di Banjar. Putra Ki Pasek Gelgel yang berada di Gianyar, ada yang ke Blahbatuh, ke Mengwi, Badung, Tabanan, Buleleng, dan yang di Kediri diangkat menjadi Prabekel. Mengenai putra Ki Gede Manik Mas minggat dari rumah. Kemudian Ki Gede Abyan Tubuh berada di Mangwi sehingga anak cucu beliau mengaku berasal dari Mengwi, Ke Jimbaran, ke Kaba-Kaba, ada yang ke Tabanan. Diceriterakan putranya yang ada di Jimbaran yang mempunyai putra yang bernama Ki Gede Bandesa Gumyar seorang dukun yang tinggal di Desa Tangkan. Ada pula yang ke Blahbatuh ada yang ke Desa Canek, ke banjar Tunon dan ada yang ke Payangan. Ki Gede Bandesa Selat menyebar, ada di Selat, di Apuan, di Desa Duda, di Tirta, di desa Tista Karangasem, di Taman Bali, di Panarungan, di Marga dan ke Jelantik. Ki Gede Dangka, menurunkan putra yang menghamba di Klungkung dan selanjutnya pindah ke Badung tinggal bersama Ida Padanda Raka dan Geria Gede. Dari Geria Gede lalu-pindah ke Sesetan. Putranya yang lain ada di Baturiti, ada di Buleleng, dan ada juga di Tohpati.
Perjalanan Ki Gede Samping ke Badung, yang selanjutnya pindah-pindah ke Mengwi, ke Marga dan sampai ke Jembrana.
Dan turunan Ki Bandesa Manik Mas juga menyebar ke desa-desa seperti ke desa Batan Tingkih, Tulikup, ke Blahbatuh, ke Gunung Bangli, di Pejeng, di Sempidi, di Bongkasa, Tabanan, Wanagiri, Sanda, Buleleng, Gobleg, di Munduk Sawan, Jagaraga, Sangsit, Sukasada, dan di Banjar.
Keturunan Ki Bandesa Pasar Badung menyebar dari Gelgel menuju Gianyar, di Blahbatuh, Negara, Badung, ke Pandak, di Kadiri, di Kulating, Pangkung Tibah, Jegu dan Tegallinggah.

Diceriterakan asal mula dari warga Ki Bandesa Manik Mas yang direstui oleh Ida Padanda Dwijendra serta ajaran yang diberikan beliau dapat dipakai pegangan. Karena baktinya Ki Bandesa Manik Mas dengan mempersembahkan putrinya kepada Ida Pedanda. Kemudian Ida Pedanda mendirikan Parhyangan di Desa Mas yang diberi nama Pura Taman Pule. Ida Pedanda mempunyai putra bernama Pangeran Ida Bukcabe yang kemudian dihormati oleh wangsa Brahmana sekalian. Untuk pemujaan Ida Bukcabe dibangun sebuah tugu (Pasimpangan) yang berbentuk gedong yang beratapkan bata. Dan untuk pemujaan Bhatara di Basukih berupa Meru tingkat 5. Tugu pada pintu adalah pemujaan Jro Gede Dangka.
Ajaran mistik dari Ida Ayu Swabawa yang diberikan oleh Ida Pedanda Dwijendra berupa Siwer Mas, Canting Mas dan Kalabang Gni.
Ditegaskan juga asal usul keturunan Ki Pasek Gelgel yaitu Hyang Gnijaya berputra Mpu Witadharma dan Sang Kulputih. Sang Mpu Witadharma menurunkan Mpu Wiradharma. Mpu Wiradharma berputra 3 orang yaitu Mpu Lampita. Mpu Pastika, dan Mpu Ajnyana. Tetapi hanya Mpu Lampita menurunkan putra 3 orang yaitu Mpu Pradah, Mpu Kuturan, Mpu Katrangan. Mpu Pradah berputra Mpu Bahula, Mpu Bahula berputra Mpu Tantular dan Mpu Pudra. Mpu Tantular berputra 4 orang yaitu Mpu Panawasika, Mpu Asmaranata, Mpu Sidhimantra, dan Mpu Kapakisan. Mpu Asmaranata menurunkan Mpu Angsoka, dan Mpu Nirartha. Mpu Nirartha bernama juga Bhatara Dwijendra atau Bhatara Sakti Wawu Rauh. Mpu Sidhimantra berputra Ida Manik Angkeran. Ida Manik Angkeran berputra Ida Tulusdewa dan Ida Kacang Paos. Ida Tulusdewa berputra Ida Banyakwide dan Arya Sidemen, Ida Banyakwide menurunkan Arya Pinatih atau Arya Wang Bang, Mpu Kapakisan berputra Danghyang Kresna Kapakisan. Mpu Ajnyana berputra Mpu Pananda bertempat di Silayukti. Ada juga Mpu Jinaksara yang menurunkan Mpu Ketek yang kemudian menurunkan Arya Tatar. Arya Tatar bergelar Patih Ulung. Patih Ulung berputra Arya Semar, Arya Semar berputra Gusti Langon. Dari I Gusti Langon inilah yang menurunkan 6 orang wangsa Pasek di Bali seperti Ki Pasek Gelgel, Ki Pasek Denpasar, Ki Pasek Tangkas, Ki Pasek Tohjiwa, Ki Pasek Nongan dan Ki Pasek Prateka serta Ki Pasek Kebayan.

Diceriterakan Sira Bhatara Dwijendra setelah kawin dengan putra Ki Pangeran Mas yang menurunkan Ida Padanda Bukcabe. Ida Bukcabe ini berputra 3 orang yaitu Ida Padanda Kacang Paos, yang berada di Mas, Ida Bukyan bertempat di desa Abiansemal yang diemban oleh Arya Dawuh, yang paling bungsu Ida Padanda Baluwangan tinggal di-desa Padang Jarak yang diiringi oleh rakyat sebanyak 40 orang. Ida Padanda Baluwangan kemudian pindah ke Sanur yang diantarkan oleh Arya Pacung dengan gelar Ida Padanda Kidul

Babad Bendesa Mas

Om Awigenam Astu
BABAD BENDESA MAS SECARA RINGKAS

PANCA PANDITA
Mpu Geni Jaya beserta adik-adiknya Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Pradah dan Mpu Gana merupakan panca pandita dari India yang pada suatu ketika menghadap Raja Airlangga di Kediri. Kedatangan mereka ke Indonesia adalah terutama untuk membina pulau Bali atas perintah Bhatara Paçupati. Yang meneruskan perjalanan ke Bali adalah:
1. Mpu Semeru menetap di Besakih.
2. Mpu Gana di Dasar Bhuwana, Gelgel.
3. Mpu Kuturan di Çilayukti, Padang.
Yang tinggal di Jawa adalah:
1. Mpu Pradah di Pajarakan, Kediri dan
2. Mpu Genijaya.

MPU GENI JAYA (1157)
Mpu Geni jaya mempunyai 7 putera (Sapta Pandita) yang tinggal di Kuntuliku, Jawa Timur. Dalam tahun 1157 Mpu Geni jaya pergi ke Bali untuk mengunjungi adik-adiknya lalu menetap di gunung Lempuyang.

Gajah Waktra (1337 – 1343)
Raja Bali, Gajah Waktra beserta pepatihnya Kebo Iwa dan Pasung Gerigis memerintah Bali selama 1337 – 1343. Kemudian Bali di serang dan di taklukan oleh patih Gajah Mada dari Mojopahit. Selesai perang, Mpu Jiwaksara yaitu generasi ke-6 dari Mpu Geni jaya diangkat menjadi puncuk pimpinan pemerintahan Mojopahit di Bali dengan gelar Patih Wulung. Ayahnya Mpu Wijaksana juga ikut ke Bali dan merupakan pendeta pertama dari Mojopahit yang mengatur tata keagamaan di Bali setelah Bali jatuh ke tangan Mojopahit.

PATIH WULUNG (1350)
Pada tahun 1350 Patih Wulung berangkat ke Mojopahit untuk memberi laporan kepada ratu Mojopahit Tri Buana Tunggal Dewi tentang keadaan di Bali dan sekaligus mohon supaya cepat di angkat seorang raja di Bali sebagai wakil pemerintahan Mojopahit.
Akhirnya diangkatlah salah satu putra dari Danghyang Kepakisan, yaitu Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, berkedudukan di Samplangan kemudian di Gelgel.
Berselang beberapa tahun, Sri Kresna Kepakisan ingin mempersatukan Blambangan dan Pasuruan yang dikuasai sang kakak, yaitu Dalem Wayan dan Dalem Made dengan kerajaan Bali. Penyerangan dilakukan ke Pasuruan dibawah pimpinan Patih Wulung. Sri Kresna Kepakisan berpesan agar sang kakak jangan sampai di bunuh. Namun dalam perang tanding antara Patih Wulung dan Dalem Pasuruan, yang terakhir ini terkena senjata Patih Wulung lalu gugur.

Setelah patih Wulung dengan pasukannya kembali ke Bali dan melaporkan jalannya peperangan yang berakhir dengan gugurnya Dalem Pasuruan, Sri Kresna Kepakisan menjadi sangat marah lantaran Patih Wulung telah melanggar pesannya sebagai tersebut di atas. Patih Wulung diusir dari gelgel setelah dibekali beberapa sikut tanah dan beberapa ratus prajurit. Di samping itu juga diberi gelar Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas. Patih Wulung pindah ke Bali Tengah yang kemudian disebut Bumi Mas kira-kira dalam tahun 1358.

Ki Patih Wulung atau Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas mempunyai 2 putra, yaitu:
Putra pertama adalah Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (II) yang menetap di Desa Mas dan menurunkan:
a. Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (III),
b. Gusti Luh Made Manik Mas,
c. Gusti Luh Nyoman Manik Mas Genitri, yang kemudian diperistri oleh Danghyang Nirartha.

Nama Bendesa Mas tetap tercantum sebagai pengenal garis keturunan. Dari sinilah menurun para Bendesa Mas yang tersebar di seluruh Bali antara lain di Gading Wani.
Putra kedua dari Patih Wulung adalah Kiyai Gusti Pangeran Semaranata, menetap di Gelgel dan menurunkan Gusti Rare Angon, leluhur dari Kiyai Agung Pasek Gelgel. Istilah Pasek berasal dari istilah kata pacek yang berarti pejabat. Semua pegawai kerajaan dari Perdana Menteri, Panglima Perang, Prajurit dan pegawai lainnya adalah pejabat.

DANGHYANG NIRARTHA (1489)
Di zaman Dalem Watu Renggong (1460 – 1550) datanglah ke Bali Danghyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh dalam tahun 1489 lalu diangkat menjadi Bagawantha kerajaan.
Danghyang Nirartha adalah putra dari Danghyang Semara Natha yang bersama-sama pindah dari Mojopahit ke Daha, karena Mojopahit telah jatuh ke tangan Islam dalam tahun 1474. Islam kemudian juga merambat ke Kediri dan oleh karena itu Danghyang Nirartha pergi bersama kedua putra putrinya yang masih kecil, yaitu Ida Suwabawa (wanita) dan Ida Kulwan (laki) ke Pasuruan.

Di sini beliau menikah lagi dengan seorang putri Pasuruan yang melahirkan: 1. Ida Lor atau Ida Manuaba dan 2. Ida Wetan.
Dari Pasuruan Danghyang Nirartha pindah lagi ke Belambangan di mana beliau menikah dengan adiknya Dalem Blambangan yang bernama Patni Keniten Saraswati dan melahirkan: 1. Ida Selaga atau Ender, 2. Ida Keniten, 3. Ida Nyoman Stri Rai (wanita).
Timbul keributan di istana Blambangan lantaran istrinya dalem jatuh cinta pada Mpu Nirartha dan Dalem menuduh Nirartha mengguna-gunai sang permaisuri. Akhirnya Nirartha diusir dari Blambangan. Disertai ketujuh putra putrinya dan sang istri Patni Keniten Saraswati, beliau menyeberang ke Bali dan turun di pelabuhan Purancak.
Perjalanan dilanjutkan ke arah timur dan suatu ketika rombongan sampai di Desa Gading Wani, yang penduduknya kebetulan ditimpa penyakit sampar. Kedatangan Danghyang Nirartha disambut oleh Ki Bendesa Gading Wani dengan ramah dan memohon kepada beliau agar sudi menolong mengobati mereka yang sedang sakit. Berkat kesaktian Danghyang Nirartha berhasil menyembuhkan rakyat Gading Wani dan sejak itu beliau disebut pula Pedanda Sakti Wawu Rauh. Sebagai tanda bakti Ki Bendesa Gading Wani mempersembahkan kepada beliau seorang putrinya bernama Ni Luh Petapan untuk di jadikan pelayan.

Nama Danghyang Nirartha makin terkenal di Bali dan oleh karena itu Ki Pangeran Bendesa Manik Mas mengundang beliau untuk datang ke Bumi Mas, lebih-lebih setelah diketahui, bahwa mereka masih saudara sepupu. Di Bumi Mas, Danghyang Nirartha dibuatkan oleh Ki Pangeran Bendesa Manik Mas sebuah pasraman dan sebuah permandian.
Setelah cukup lama tinggal di Mas, Kiyai Pangeran Bendesa Manik Mas mempersembahkan putrinya Gusti Nyoman Manik Mas Genitri kepada Danghyang Nirartha untuk di jadikan istri. Dari perkawinan ini lahirlah seorang putra yang diberi nama Ida Bokcabe. Ni Berit putri yang dibawa dari Melanting-Pulaki dan Luh Petapan putri dari Ki Bendesa Gading Wani akhirnya dikawini pula dan dari yang pertama lahir Ida Andapan sedangkan dari yang kedua lahir Ida Petapan.

BUMI MAS DISERANG SUKAWATI (1750)
Kira-kira dalam tahun 1750 Bumi Mas diserang oleh Kerajaan Sukawati, oleh karena Pangeran Bendesa Manik Mas tidak mau menyerahkan pusaka-pusakanya kepada Dalem Sukawati. Barang-barang pusaka dimaksud adalah pusaka leluhur Mojopahit yang dahulu diberikan oleh Ratu Mojopahit dan Patih Gajah Mada kepada Ki Patih Wulung sebagai penguasa Bali Aga Mojopahit. Pusaka itu terdiri dari keris, mahkota dan sebuah permata yang sangat dimuliakan bernama Menawa Ratna.

Penolakan Pangeran Bendesa Mas tersebut berdasarkan sebuah prasasti yang dahulu di keluarkan oleh Dalem Kresna Kepakisan (leluhur Dalem Sukawati) kepada Ki Patih Wulung, sewaktu patih ini diusir dari Gelgel ke Bumi Mas. Dalam prasasti ini antara lain di muat: “Kekayaan, harta benda, pusaka-pusaka dan lain-lain yang menjadi milik Bendesa Mas tidak boleh diambil atau dijarah/dikuasi untuk kerajan”.
Dalem Sukawati tidak mengindahkan atau tidak memahami isi wisama ini, lalu Bumi Mas diserang dengan pasukan besar yang mengakibatkan terbunuhnya Sang Pangeran Bendesa Mas dan keluarganya menghilang dari Bumi Mas termasuk keluarga Brahmana Mas. Keluarga Bendesa Mas menjadi cerai berai dan mengungsi kesegala plosok pulau Bali, juga ke Gading Wani.

PENUTUP
Berdasarkan babad tersebut di atas, maka Pura Kawitan para Bendesa Mas adalah Pura Lempuyang Madia, bekas parhyangan Mpu Genijaya. Di samping itu pula nyungsung ke Pura Gading Wani (Lalanglinggah) dan Pura Taman Pule (Mas). Juga Pura Çilayukti (Padang) dan Pura Dasar Bhuwana (Gelgel) tidak boleh dilupakan.
Waktu di pura Besakih dibangun sebuah pelinggih untuk memuja arwah suci Danghyang Nirartha, di sebelah timurnya didirikan pula pelinggih untuk Bendesa Mas. Namun demikian lelintihan/asal-usul dan hukum kepurusa, para Bendesa Mas patut nyungsung pula pura pedharman di komplek pura Besakih, yaitu Pura Ratu Pasek.

Babad Bendesa Mas

Om Awigenam Astu
BABAD BENDESA MAS SECARA RINGKAS

PANCA PANDITA
Mpu Geni Jaya beserta adik-adiknya Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Pradah dan Mpu Gana merupakan panca pandita dari India yang pada suatu ketika menghadap Raja Airlangga di Kediri. Kedatangan mereka ke Indonesia adalah terutama untuk membina pulau Bali atas perintah Bhatara Paçupati. Yang meneruskan perjalanan ke Bali adalah:
1. Mpu Semeru menetap di Besakih.
2. Mpu Gana di Dasar Bhuwana, Gelgel.
3. Mpu Kuturan di Çilayukti, Padang.
Yang tinggal di Jawa adalah:
1. Mpu Pradah di Pajarakan, Kediri dan
2. Mpu Genijaya.

MPU GENI JAYA (1157)
Mpu Geni jaya mempunyai 7 putera (Sapta Pandita) yang tinggal di Kuntuliku, Jawa Timur. Dalam tahun 1157 Mpu Geni jaya pergi ke Bali untuk mengunjungi adik-adiknya lalu menetap di gunung Lempuyang.

Gajah Waktra (1337 – 1343)
Raja Bali, Gajah Waktra beserta pepatihnya Kebo Iwa dan Pasung Gerigis memerintah Bali selama 1337 – 1343. Kemudian Bali di serang dan di taklukan oleh patih Gajah Mada dari Mojopahit. Selesai perang, Mpu Jiwaksara yaitu generasi ke-6 dari Mpu Geni jaya diangkat menjadi puncuk pimpinan pemerintahan Mojopahit di Bali dengan gelar Patih Wulung. Ayahnya Mpu Wijaksana juga ikut ke Bali dan merupakan pendeta pertama dari Mojopahit yang mengatur tata keagamaan di Bali setelah Bali jatuh ke tangan Mojopahit.

PATIH WULUNG (1350)
Pada tahun 1350 Patih Wulung berangkat ke Mojopahit untuk memberi laporan kepada ratu Mojopahit Tri Buana Tunggal Dewi tentang keadaan di Bali dan sekaligus mohon supaya cepat di angkat seorang raja di Bali sebagai wakil pemerintahan Mojopahit.
Akhirnya diangkatlah salah satu putra dari Danghyang Kepakisan, yaitu Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali, berkedudukan di Samplangan kemudian di Gelgel.
Berselang beberapa tahun, Sri Kresna Kepakisan ingin mempersatukan Blambangan dan Pasuruan yang dikuasai sang kakak, yaitu Dalem Wayan dan Dalem Made dengan kerajaan Bali. Penyerangan dilakukan ke Pasuruan dibawah pimpinan Patih Wulung. Sri Kresna Kepakisan berpesan agar sang kakak jangan sampai di bunuh. Namun dalam perang tanding antara Patih Wulung dan Dalem Pasuruan, yang terakhir ini terkena senjata Patih Wulung lalu gugur.

Setelah patih Wulung dengan pasukannya kembali ke Bali dan melaporkan jalannya peperangan yang berakhir dengan gugurnya Dalem Pasuruan, Sri Kresna Kepakisan menjadi sangat marah lantaran Patih Wulung telah melanggar pesannya sebagai tersebut di atas. Patih Wulung diusir dari gelgel setelah dibekali beberapa sikut tanah dan beberapa ratus prajurit. Di samping itu juga diberi gelar Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas. Patih Wulung pindah ke Bali Tengah yang kemudian disebut Bumi Mas kira-kira dalam tahun 1358.

Ki Patih Wulung atau Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas mempunyai 2 putra, yaitu:
Putra pertama adalah Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (II) yang menetap di Desa Mas dan menurunkan:
a. Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (III),
b. Gusti Luh Made Manik Mas,
c. Gusti Luh Nyoman Manik Mas Genitri, yang kemudian diperistri oleh Danghyang Nirartha.

Nama Bendesa Mas tetap tercantum sebagai pengenal garis keturunan. Dari sinilah menurun para Bendesa Mas yang tersebar di seluruh Bali antara lain di Gading Wani.
Putra kedua dari Patih Wulung adalah Kiyai Gusti Pangeran Semaranata, menetap di Gelgel dan menurunkan Gusti Rare Angon, leluhur dari Kiyai Agung Pasek Gelgel. Istilah Pasek berasal dari istilah kata pacek yang berarti pejabat. Semua pegawai kerajaan dari Perdana Menteri, Panglima Perang, Prajurit dan pegawai lainnya adalah pejabat.

DANGHYANG NIRARTHA (1489)
Di zaman Dalem Watu Renggong (1460 – 1550) datanglah ke Bali Danghyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh dalam tahun 1489 lalu diangkat menjadi Bagawantha kerajaan.
Danghyang Nirartha adalah putra dari Danghyang Semara Natha yang bersama-sama pindah dari Mojopahit ke Daha, karena Mojopahit telah jatuh ke tangan Islam dalam tahun 1474. Islam kemudian juga merambat ke Kediri dan oleh karena itu Danghyang Nirartha pergi bersama kedua putra putrinya yang masih kecil, yaitu Ida Suwabawa (wanita) dan Ida Kulwan (laki) ke Pasuruan.

Di sini beliau menikah lagi dengan seorang putri Pasuruan yang melahirkan: 1. Ida Lor atau Ida Manuaba dan 2. Ida Wetan.
Dari Pasuruan Danghyang Nirartha pindah lagi ke Belambangan di mana beliau menikah dengan adiknya Dalem Blambangan yang bernama Patni Keniten Saraswati dan melahirkan: 1. Ida Selaga atau Ender, 2. Ida Keniten, 3. Ida Nyoman Stri Rai (wanita).
Timbul keributan di istana Blambangan lantaran istrinya dalem jatuh cinta pada Mpu Nirartha dan Dalem menuduh Nirartha mengguna-gunai sang permaisuri. Akhirnya Nirartha diusir dari Blambangan. Disertai ketujuh putra putrinya dan sang istri Patni Keniten Saraswati, beliau menyeberang ke Bali dan turun di pelabuhan Purancak.
Perjalanan dilanjutkan ke arah timur dan suatu ketika rombongan sampai di Desa Gading Wani, yang penduduknya kebetulan ditimpa penyakit sampar. Kedatangan Danghyang Nirartha disambut oleh Ki Bendesa Gading Wani dengan ramah dan memohon kepada beliau agar sudi menolong mengobati mereka yang sedang sakit. Berkat kesaktian Danghyang Nirartha berhasil menyembuhkan rakyat Gading Wani dan sejak itu beliau disebut pula Pedanda Sakti Wawu Rauh. Sebagai tanda bakti Ki Bendesa Gading Wani mempersembahkan kepada beliau seorang putrinya bernama Ni Luh Petapan untuk di jadikan pelayan.

Nama Danghyang Nirartha makin terkenal di Bali dan oleh karena itu Ki Pangeran Bendesa Manik Mas mengundang beliau untuk datang ke Bumi Mas, lebih-lebih setelah diketahui, bahwa mereka masih saudara sepupu. Di Bumi Mas, Danghyang Nirartha dibuatkan oleh Ki Pangeran Bendesa Manik Mas sebuah pasraman dan sebuah permandian.
Setelah cukup lama tinggal di Mas, Kiyai Pangeran Bendesa Manik Mas mempersembahkan putrinya Gusti Nyoman Manik Mas Genitri kepada Danghyang Nirartha untuk di jadikan istri. Dari perkawinan ini lahirlah seorang putra yang diberi nama Ida Bokcabe. Ni Berit putri yang dibawa dari Melanting-Pulaki dan Luh Petapan putri dari Ki Bendesa Gading Wani akhirnya dikawini pula dan dari yang pertama lahir Ida Andapan sedangkan dari yang kedua lahir Ida Petapan.

BUMI MAS DISERANG SUKAWATI (1750)
Kira-kira dalam tahun 1750 Bumi Mas diserang oleh Kerajaan Sukawati, oleh karena Pangeran Bendesa Manik Mas tidak mau menyerahkan pusaka-pusakanya kepada Dalem Sukawati. Barang-barang pusaka dimaksud adalah pusaka leluhur Mojopahit yang dahulu diberikan oleh Ratu Mojopahit dan Patih Gajah Mada kepada Ki Patih Wulung sebagai penguasa Bali Aga Mojopahit. Pusaka itu terdiri dari keris, mahkota dan sebuah permata yang sangat dimuliakan bernama Menawa Ratna.

Penolakan Pangeran Bendesa Mas tersebut berdasarkan sebuah prasasti yang dahulu di keluarkan oleh Dalem Kresna Kepakisan (leluhur Dalem Sukawati) kepada Ki Patih Wulung, sewaktu patih ini diusir dari Gelgel ke Bumi Mas. Dalam prasasti ini antara lain di muat: “Kekayaan, harta benda, pusaka-pusaka dan lain-lain yang menjadi milik Bendesa Mas tidak boleh diambil atau dijarah/dikuasi untuk kerajan”.
Dalem Sukawati tidak mengindahkan atau tidak memahami isi wisama ini, lalu Bumi Mas diserang dengan pasukan besar yang mengakibatkan terbunuhnya Sang Pangeran Bendesa Mas dan keluarganya menghilang dari Bumi Mas termasuk keluarga Brahmana Mas. Keluarga Bendesa Mas menjadi cerai berai dan mengungsi kesegala plosok pulau Bali, juga ke Gading Wani.

PENUTUP
Berdasarkan babad tersebut di atas, maka Pura Kawitan para Bendesa Mas adalah Pura Lempuyang Madia, bekas parhyangan Mpu Genijaya. Di samping itu pula nyungsung ke Pura Gading Wani (Lalanglinggah) dan Pura Taman Pule (Mas). Juga Pura Çilayukti (Padang) dan Pura Dasar Bhuwana (Gelgel) tidak boleh dilupakan.
Waktu di pura Besakih dibangun sebuah pelinggih untuk memuja arwah suci Danghyang Nirartha, di sebelah timurnya didirikan pula pelinggih untuk Bendesa Mas. Namun demikian lelintihan/asal-usul dan hukum kepurusa, para Bendesa Mas patut nyungsung pula pura pedharman di komplek pura Besakih, yaitu Pura Ratu Pasek.
Sumber:
1. Surat Jro Mangku Gde Ketut Soebandi, Tgl. 13-11-199.
2. Buku “Babad Bali Agung”, I.N. Djoni Gingsir.
3. Buku “Babad Pasek dan Bandesa”, I Gst. Bgs. Sugriwa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s