Universal

Om Swastyastu

Karma Phala Dan Punarbawa.

A.  Pendahuluan

Pada bab ini akan menjelaskan pengertian tentang pengertian dai HukumKarma Phala dan Punarbawa serta beberapa Contoh-contohnya.

Pada Ajaran Agama Hindu ada yang dikenal dengan ajaaran Punarbawa, punarbawa itu adalah merupakan akibat dari Hukum karma Phala. Oleh karena itu harus ada kelahiran  lain untuk menikamti perbuatan yang tersisa, Kalhran dqn Kematian terus berlanjut, sampai mencapai pengetahuanyang kekal. Karma –karma yang baik membawa kepada kelahiran dalam suasana yang lebih tinggi, dan diperoleh kenaikan satus yang lebih tinggi dan dengan kejahatan, akan turun ketingkatan yang lebih rendah. Selama karma-karma yang baik atau yang buruk tidak dilepaskan, manusia tidak akna mencapai Moksa atau pembebasan akhir. Baik karma buruk maupun karma baik, akan membelengu erat sang jiwa dalam rantqi besi atau rentai emas. Moksa tidak dapat dicapai selama pengetahuan tentang yang abadi tidak dicapai.B. Karma Phala.

Kata Karma Phala berasal dari bahasa Sanskerta, yang artinya berbuat atau bekerja. Manusia yang diperngaruhi oleh tri guna yang terdpat dalam dirinya selalu bergerak aktif dan beruat. Perbuatan atau kegiatan yang dilakukan itu kadang-kadang disadari kadang-kadang tidak disadarinya.  Kegiatan atau perbuatan tersebut ada yang baik dan ada pula yang tidak baik, kesemuanya itulah yang dikenal dengan sebutan Karma.  jadi untuk lebih jelasnya dapat kita simpulkan untuk sementara bahwa karma ialah segala perbuatan dan kegiatan yangkita lakukan tanpa kecuali. Baik yang secara sadar maupun yang kita laksanakan dengan tidak sadar. Kemudian yang perlu kita ketahui lagi dari mana sesungguhnya segala gerak atau aktivitas / kegiatan atau karma itu muncul, dengan kata lain apakah sumber karma itu? Adapun sumber kegiatan atu ada tiga macam yaitu, Manah (pikran) Wacika(Ucapan). Dan Kayika (perbuatan).

Bentuk –bentuk Karma itu sesuai dengan sumbernya ada tiga macam  yaitu:

  1. Karma dalam bentuk pikran,
  2. Karma dalam bentuk ucapan.
  3. Karma dalam bentuk perbuatan atau tingkah laku.

Jika demikian dapat kita ungkapan apa yang disebut dengan Karma ialah segala kegiatan dalam bentuk pikiran ,ucapa, dan perbuatan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari.

Seperti halnya seorang petani yang menanam jagung atau singkong(ubi) pasti ia akan memetik jagung atau singkong(ubi) karena jagung itu kelak pasti akan berbuah dan singkong (ubi) atu pasti akan berumbi, dan petani itu pula yang akan menikmati rasanya atau yang akan memetiknya, bukan orang lain karen apetanni itulah yang menjadi pemiliknya. Begitu pula halnya dengan Karma, perbuatan yang dilakukan oleh manuasi pasti akan menimbulkan hasil, buah atau akibat . hasil dari perbuatan itulah yang disebut Karma Phala. Kata phala berarti buha atau hasil dan yang akan menrima Karma Phala atau buah karma itu adalah orang yang memiliki Karma itu, sebab ia sendiri yang membuat Karma itu. Jika ia membuat Karma yang baik, Ia akan menerima hasil yang baik. Dan jika sebaliknya, maka dia juga akan menerima hasil yang tidak baikKeadaan atau kejadian serti ini disebut dengan Hukum Karma Phala atau hukum Karma.

Hukum Karma adalah hukum alam yang menjelaskan bahwa segala perbuatan akan menimbulkan hasil, perbuatan baik akan menimbulkan kebaikan dan perbuatan jahat akan menimbulkan (kejahatan). Hali itu sesuai dengan hukum sebab akibat yang menyatakan bahwa setiap sebab akan menimbulkan akibat. Maksudnya segala sebab yang berupa perbuatan akan membawa akibat sebagai hasil dari perbuatan itu. Karena kata perbuatan sama dengan Karma. Maka dapat kita katakan sebagai berikut: Segala Karma (perbuatan) akan mengakibatkan Karma Pkala(hasil/buah perbuat). Inilah yang disebut juga dengan Hukum Karma. Hukum Karama Phla ini adalah hukum Alam semesta yang telah ditetapkan oleh Tuhan/ Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu berlaku bagi semua umat Manusia,utamanya, bahkan juga semua makhluk hidup baik yang terlihat maupun yang tidak dilihat oleh mata kita. Hukum karma itu berlaku dimana saja, kapan saja dan terhadap siapa saja. Karena hukum itu tidak dipengaruhi oleh ruang waktu, dan tempat karena itu hukum tersebut telah berlaku sejak alam ini mulai diadakan dan akan berlaku sampai alam ini pralaya.

C.  Punarbhawa

Kata Punarbhawa berasal dari bahasa Samskerta terdiri dari dua kata yaitu kata punar yang berarti lagi/kembali dan kata Bhawa bermenjelma. Jadi Punarbhawa berarti kelahiran yang berulang – ulang yang disebut juga Penitisan atau Samsara. Didlam pustaka suci Weda dikatakan bahwa penjelmaan atma(roh) yang berulang-ulang (samsriti) ke dunia ini disebut samsara. Punarbawa atau samsara ini terjadi diakibatkan oleh adanya Hukum Karma,dimana karma yang tidak baik menyebabkan atma(Roh) menjelma kembali untuk memperbaiki perbuatan yang tidakbaik, atau karena atma itu masih dip[erngaruhi oleh Karma Wasna (bekas-bekas atau sisa-sisa perbuatann) atau kenikmatan Duniawi sehingga tertarik untuk lahir ke Dunia. Kelahiran ini adalah samsara ( sengsar/menderita). Sebagai hukuman yang diakibatkan oleh perbuatan atau karma dimasa kelahiran terdahulu.

Kelahran atma berulang-ulang ke dunia  ini membawa akibat sukaduka. Didalam Kita Suci Bhagwadgita yaitu pada Bab IV.5 Sri Kresna berwecana,

Sribhagawan uwaca :

Bahuni me wyatitani janmani tava carjuna.

Tany aham veda suvana twam vettha parantapa

Artinya :

Sri Bhagwan Berkata :

Banyak kelahiran ku di masa lalu demikian dan   pula kelahiran Arjuna.

Semuanya ini aku tahu tetapi engkau sendiri  tidak parantapa.

Segala yang kita perbuatan di dunia ini menyebabkan adanya bekas (wasana) dalam Jiwatman bekas-bekas perbuatan (KarmaWasana) ada bermacam – macam. Jika bekas-bekas itu hanya bekas keduniawian, maka Jiwatman  akan lebih mudah ditarik oleh hal-hal keduniawian sehingga Jiwatman itu lahir kembali. Misalnya pada waktu mati ada bekas-bekas hidup mewah pada Jiwatman, maka setelah di Akhirat Jiwatman itu masih punya hubungan kemewahan hidup, sehingga jiwatman itu mudah untuk ditarik kembali ke dunia. Apabila pada saat kematian itu tidak ada bekas-bekas kemewahan (ikatan keduniawian) maka ia akan terus berstu dengan Sang Hyang Widhi Wasa, dan mencapai tujuan akhir yang disebut dengan Moksa. Meskipun tujuan akhir manusia adalah untuk mencapai Moksa, tetapi kelahiran kita kedunia sebagai manusia adalah sesuatu kesempatan untuk meningkatkan kesempurnaan hidup guna mengatasi kesengsaraan dan juga untuk dapat melenyapkan pengaruh karma (maya) yang merupakan sebab utam atimbulnya Punarbhawa atau Semsara(sengsar). Unsur-unsur maya tersebut baik yang berupa Suksma sarira maupun berupa Sthula Sarira yang bersumber pada Citta dan Karma serta terdiri dari Panca Maha Bhuta itu akan selalu mengadakan hubungan tarik menarik secara timbal balik. Apa yang dialami oleh atma dalam Suksma Sarira dan Sthula Sarira demikian pulaakibat yang dialami oleh atma dalam Sthula Sarira dan suksma Sarira pada kehidupan yang akan datang. Jadi yang menjadi sumber timbulnya samsara atau punarbhawa itu adalah maya dan karma itu sendiri.

Dengan adanya pengaruh maya maka atma menjadi awidya karena dalam hal ini ahamkara (sifat ego) dan indra sangat besar pengaruhnya sehingga pikiran mengarah kepada dua diantara Tri Guna yaitu Rajas dan Tamas.sehingga mengakibatkan karma yangdilakukannya pun bersifat Rajas dan Tamas pula. Karena pikiran atau citta itulah yang menjadi sumber timbulnya segala macam aktivitas (karma) tersebut, akan menimbulkan dosa dan atma akan mengalami Neraka serta selanjutnya akan mengalami penjelmaan Punarbhawa dalam tingkat yang lebih rendah. Demikian pula sebaliknya bahwa karma yang dilakukan atas dasar budhhi sattwam  adalah buddhhi dharma (suba Karma) yang mengakibatkan atma akan mendapat sorga dan jika menjelma kemablai akanmengalami tingkat  penjelmaan yangsempurna dan lebih tinggi. Atma yang menjelma dari sorga akan menjadi manusia yang hidup bahagia di dunia dan kebahagiaan ini akan dialami dalam penjelmaan yang akan datanag  yang disebut Surga Syuta.

Sedangkan atma yang menjelma dari Neraka akan manjadi makhluk yang nista dan akan mengalami bermacam-macam penderitaan hidup di dunia ini dan penderitaan yang dialami dalam penjelmaan ini disebut Neraka Syuta.

Jadi dengan demikian tingakt dan keadaan penjelmaan itu berbeda-beda tergantung dari jenis suba asuba karmanya. Demikian merosotnya tingakt penjelmaan yang dialami oleh atma sebagai akibat dari Asuba Karma, sedangkan makhluk yang nista sekalipun jika dapat melakukan subha karma maka kelak penjelmaanya akan meningkat menjadi lebih tinggi dari yang semula.

D. Macam-macam Karma Phala.

Seperti halnya pada tumbuh-tumbuhan tidaksama masa hdiup dan berbuahnya, ada yang sepat hidup dan berkembang serta berbuah, misalnya Jagung, padi, hanya dalam tiga sampai tiga setngan bulan, sudah berbuah dan dapat dipanen. Tetapi cengkeh contohnya akan berbuah pada umur kurang lebih lima tahunan. Mengapa seperti tidak lain adalah karena masing-masing tanaman mempunyai masa sendiri-sendiri untuk dapat berbuah. Yang jelas pasti akan berbuah setelah melalui prosesnya masing-masing.

Begitu pula perbuatan atau karma kita, bahwa setiap perbuatan pasti akan berbuah.setiap sebab pasti akan berakibat. Pewrbutaan baik pasti akan menimbulkan kebahagiaan dan perbuatan jahat akan menimbulkan penderitaan.jadi dari kebaikan timbul kebahagiaan dan dari kejahatan timbul pendritaan. Kita pun telah menyadari pula bahwa kesemuanya yaitu hasil baik dan tidak baik pasti akan diterima oleh si pembuat karma itu. Karena  ia sendirilah pemilik dan ahli waris perbuatan itu. Sesuatu yang mustahil jika hasil tersebut akan diterima oleh orang lain yang bukan pemiliknya karma itu karenna itu kita haurs hati-hati dan selalu waspada.

Diatas telah diterangkan bahwa umur atau masa berbuah tubuh-tumbuhan tidak sama, ada yang cepat dan ada pula yang lebih lama waktunya untuk berbuah, demikian juga karma ada yang cepat berphala ( berbuah) ada yang sedang-sedang dan adapula yang cukup lama. Karena itulah ada beberapa kejadian didalam kehidupan sehari-hari. Misalnya contoh ada orang yang dirundung malang dan petaka, padahal sepanjang hidupnya sehari hari selalu berbuat kebaikan dan sesuai dengan susila Agamanya, tetapi dipihak lain ada orang yang selalu perbuatannya bertentang dengan susila Agamanya, tetapi merka menikamati kehidupan yang Bahagian. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Hal ini tidak sesuai dengan Hukum Karma dan tidak berlaku bagnya, bukankah Hukum Karma itu merupakan Hukum Alam semesta yang tidak mungkin dapat ditawar-tawar lagi.

Karama Phala ada tiga jenis yaitu :

  1. Sancita karma Phala adalah Karma diwaktu kehidupan terdahulu yang Phalanya dinikamti dalam kehdiupan saat ini. Hal itu disebabkan Karma tersebut belum habis diterima pada kehidupan terdahulu.

Conthnya:  Dalam kehidupan ini ada seseorang senantiasa berbuat Jahat umpamanya, namun ia selalu mendapatkan phala kebaikan. Kemungkinan itu adalah oarang gtersebbut masih menikamati karma baiknya terdahulu.

2.. Parabda Karma Phala.adalah Karma yang diperbuat dalam kehidupan sekarang yang buahnya/Phalanya langsung diterima saat ini pula dan biasanya habs dalam kehidupan sekarang. Contoh umpamanya :

Ada seseorang mencuri ketimun, namuntak lama, mulutnya bengkat, ternyat setelah ia mencari tahu apa sebabnya mulutnya mebengkak membenk, ternyata dikatakan bahwa hal itu akibat dari perbuatannya mencuri timun tersebut.

3.. Kriyamana Karma Phala. Adalah Perbuatan /karma seseorang yang phalanya tidak sempat diterima pada saat kehidupannya sekarang, namun akan dinikamti ketika kehdiupannya yang akan datang. Contohnya umpamanya : Ada seseorang senantiasa berbuat kebaikan tetapi Phalanya tidak dinikmati sat ini, dan akan dinikamti ketika kehidupannya yang akan datang.

Jika Karma Phala itu demikian keadaannya ada perbuatkan/ perilaku yang dilakukan sekarang dan phalanya/hasil perbuatannya dapat dinikmati dalam kehidupan saat ini juga. Misalnya ada seseorang yang senantias berbuat baik, berpikir baik, berkata baik maka ia menemukan kehdiupan yang bahagia sekarang juga, ataupun sebaliknya ada orang yang selalu berbuat tidak baik dalam kehidupannya ini maka ia jelas selalu mendapat penderitaan hidupsaat ini juga. Itulah contoh yang diperbuat sekarang dan berakibat dan berphala sekarang juga. Inilah yang dikenal dengan Parbda Karma Phala.

Sedangkan untuk Karma ynag disebut dengan Sancita Karma Phala, hal ini adalah untuk seseorang yang masih mempunyai simpanan Karma Baik yang diperbuat pada kehidupannya yang terdahulu yang belum sempat dinikamti Phalanya, misalkan saja akibat kematian, kemudian terlahirkan kembali dengan membawa bekal Karma kebaikan terdahulu,sehingga walaupun ia tidak berbuat baik, tetapi karena simpanan karma baiknya terdahulu, sedangkan Karma tidak baikanya saat ini belum berphaala, maka tentu ia menikmati kebahagiaan ataupun senang, demikian juga sebaliknya.

Jadi jelaslah bahwa bagaimanapun juga karma tersebut pasti berphala, tinggal menungggu waktunya saja dan jelas tidak ada pengecualian berlakunya Hukumm Karma itu. Setiap orang ataupunsetiap makhluk hidup pasti tidak mungkin akan terlepas dari proses Hukum karma. Karena demikian halnya maka sebaiknya setiap orang mesti harus menyadari bahwa untuk mencapai kehdiupan senang, abhagia dan sejahtra harus berbuat baik dan benar. Haruslah selalu berbuat  , berkata atas dasar pikiran yang murni dan suci. Sebab hanya dengan berbuat baik seseorang pasti akan mengalami hidup bahagia dan sejahtra baik dalam kehidupannya saat ini maupun kehidupan yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s