Memaknai Babad/Prasaty. Bag 6


Selanjutnya pada bagian akhir babad mi dijelaskan bahwa Bhatara Putrajaya memerintahkan agar :

a. Mpu Ghnijaya beryoga di gunung Lempuyang bersama—sama Bhatara Kamimitan yaitu Bhatara Ghnijaya.

b. Mpu Semeru beryoga di Besakih bersama— sama Bhatara Putrajaya.

c. Bhatara Ghana beryoga di Dasar Bhuwana.

d. Mpu Kuturan beryoga di silayukti.

e. Mpu Bradah ke Jawa dan ke Bali (angajawa dan angabali).

Mpu Ghnijaya menurunkan Sanak Pitu. Mpu Sumeru menurunkan Mpu Kamareka dan Mpu Ghana menurunkan Mpu Galuh.

Setelah kita mengikuti beberapa garis besar isi babad Pasek Kayuselem yang merupakan uraian pelengkap babad ini, baiklah pada bagian ini kita mengalihkan pikiran untuk membicarakan bagaimana asal usul terjadinya Warga Pasek Kayuselem sesuai dengan babad yang kami pakai dasar penyusunan tulisan ini.

Tersebutlah pada waktu para dewata merabas dan membakar hutan di gunung Tampurhyang sebuah pohon asam( tuwed) tidak habis terbakar oleh api, Tuwed asam yang masih tersisa ini kelihatan sebagai orang yang sedang bersemadi (ngranasika). Penduduk Bali makin bertambah mengingat sudah banyaknya manusia di Bali. Bhatara Brahma diperintahkan oleh Hyang Pramesti Guru turun ke Bali untuk menciptakan manusia agar kelak ada keturunan Bhujangga di Bali. Ketika beliau sampai di Tampurhyang dijumpainya tuwed asam tersebut. Beliau amat tertarik melihat dan berkehendak memperbaikinya. Kemudian Hyang Brahma mengundang Bhagawan Wismakarma untuk memperbaiki dan memperhalus tuwed asam itu agar benar—benar menyerupai bentuk manusia. Untuk memenuhi maksud di atas serta agar beliau tidak dikenal oleh orang—orang Baliaga. Bhagawan Wismakarma menyamar menjadi seorang petani dusun, berbaju kotor dan bertopikan sebuah kuskusan datang ke tempat tuwed asam bekas pembakaran hutan di Tampurhyahg. Tuwed tersebut diperbaiki dengan saksama sehingga benar benar berbentuk wujud manusia yang tampan.

Sebelum Bhagawan Wismakarma meninggalkan Tampurhyang beliau tidak lupa memberikan petunjuk kepada wong Baliàga, bagaimana cara membuat bangunan (ngundaginin) agar dapat dikembangkan dan diterapkan pada masa mendatang. Atas perintah Hyang Pramesti Guru, Bhatara Indra ditugaskan mengajar wong Baliaga agar mereka dapat mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan ukir mengukir (sangging). Selama Bhatara Indra berada di Tampurhyang beliau tidak lupa menyempurnakan togog celagi yang telah diperhalus sebelumnya oleh Bhagawan Wismakarma. Demikian pula agar penduduk Baliaga mengenal perdagangan, Bhatara Hyang Pramesti Guru mengutus para Bidadari menyamar menjadi penjual keris serta kain agar dapat ditiru oleh wong Baliaga. Pada kesempatan ini para bidadari pergi ke tempat togog tuwed celagi dan mengenakan kain, destar,sampir, ikat pinggang serta menyisipkan sebuah keris di pundaknya.
Keindahan togog makin bertambah serta orang—orang Bali aga tidak bosan—bosan menikmatinya. Siang malam mereka berbondong-bondong melihat sehingga tak ubahnya Seperti Sang Kresna di Dwarawati sedang dihadap para menteri dan rakyatnya. Kewibawaan togog makin cemerlang, sehingga banyak diantara mereka yang kagum dan tercengang menyaksikan. Bahkan banyak pula diantara nEreka mengeluarkan ucapan bahwa apabila tögog tersebut benar benar berwujud seorang manusia mereka akan sanggup menghamba selama hidupnya.

*** Diceriterakan Mpu Mahameru turun ke Bali hendak menghadap Bhatara Putrajaya di Tolangkir dan Bhatara Ghnijaya di Lempuyang. Dalam perjalanannya menuju desa Kuntugladi beliau beristirahat sejenak di Tampurhyang. Di tempat itu Mpu Mahameru melihat air yang jernih Se hingga timbul hasrat beliau untuk mencuci muka. Ketika beliau mencuci muka terlihat olehnya tuwed clagi yang amat tampan dan berwibawa sedang dikerumuni oleh orang orang Baliaga. Terketuk hati beliau untuk menjelmakan togog tersebut menjadi seorang manusia. Mpu Mahameru beryoga dan dengan segala keahliannya dan terjelmalah togog itu menjadi seorang manusia. Tiba—tiba manusia penjelmaan togog (Kayureka) menjadi amat tercengang serta keheran heranan sebab tidak mengetahui apa yang harus ia perbuat, seraya menghaturkan sembah dihadapan Sira Mpu ia pun bertanya : “Wahai Paduka Sang Mahamuni, siapakah yang telah menaruh belas kasihan kepada hamba sehingga hamba benar—benar menjelma menjadi seorang manusia ?“. Mpu Mabameru menjawab : “Hai Kayureka akulah yang menjelmakanmu menjadi manusia”. Kayukreka menyembah dan memeluk kaki beliau seraya bertanya : “Siapakah sebenarnya paduka yang masih kasihan kepada hamba ?“ Mpu Mahameru menjelaskan bahwa beliau adalah putra Bhatara Ghnijaya yang bersemayam di Adrikarang (Lempuyang).
Mendengar penjelasan itu Kayureka berkata “Wahai Mpu ngku junjungan hamba, hamba merasakan seolah—olah mendapatkan amerta dari paduka. Apakah yang harus hamba pergunakan membayar hutang hamba kehadapan paduka yang tak ubahnya sebagai bumi dan akasa ini ?. Sekarang tuluskanlah belas kasihan paduka kepada hamba agar segala dosa—dosa yang ada pada diri hamba menjadi bersih seterusnya. Demikian juga apabila paduka berkenan hamba memohon agar hamba bisa jüga kiranya mengikuti jejak Sang Mahameru”. Mpu Mahameru menjawab : “Tidak boleh aku menganugrahkan Sanghyang Aji kepadamu sebab engkau bukanlah berasal dari manusia, Tidak sepatutnyalah Sanghyang Aji dianugrahkan kepadamu”. Mendengar jawaban itu Kayureka menangis, menyesali nasib nya yang malang serta berkata : “Wahai paduka Bhatara, seandainya paduka tidak ada belas kasihan kepada hamba, menganugrahkan Sanghyang Aji, baiklah kembalikan dirihamba kepada wujud semula yaitu berupa tuwed, Apakah gunanya hamba menjadi manusia tidak mengetahui tata laksana dan selalu akan dijadikan tertawaan orang ?“. Mpu Mahameru tertegun mendengar ucapan Kayureka Tiba tiba terdengar suara dari angkasa : “Anakku Sang Mpu, janganlah demikian, boleh juga anakku menganugrahkan Sanghyang Aji kepadanya sebab anakku jugalah yang menjelmakan Kayureka nenjadi manusia, Janganlah khawatir aku memperkenankan Sanghyang Aji diajarkan kepada— nya”. Mpu Mahameru berpikir dan berkata : “Wahai Kayu reka, benarlah kamu ini seorang dewata yang berganti rupa menjadi sebuah togog, Pantaslah kamu menjadi Wong lawu, Sekarang marilah mendekat képadaku, aku akan menganugrahimu”. Kayurékapun mendekat dan menunduk di hadapan Sang Adiguru. Sabda Sang Mahajati “Hai Kayu reka, dengarkanlah petuahku baik—baik dan janganlah engkau mengumbar—ambirkan serta meremehkannya, karena Sanghyang Aji yang akan aku anugrahkan amat keramat. Terimalah anugrahku semoga kamu dapat meresapkan ke dalam batinmu dan karena tidak adanya Bhujangga di Bali, mulai sekarang engkau diperkenankan menjadi Bhujangga (mujanggain) orang—orang Baliaga semuanya Janganlah lupa memberitahukan keturunanmu agar mereka selalu mengingat asal usulnya. Begitu pula kelak apa— bila lahir keturunan dari kakakku Mpu Ghnijaya, keturunanmu harus menghormat dan menyembahhya, Tetapi keturunanku tidak boleh menyembah keturunanmu sebab kamu aguru putra denganku lagi pula penjelmaanmu berbeda dengan kelahiranku. Ingatlah jangan lupa, amat’ berbahaya apabila engkau tidak mentaati petuahku, Ada pun anakku Kayureka oleh karena engkau sudah apodgala (dibaptis) mulai sekarang engkau bernama Mpu Bendesa Dryakah sebab engkau berasal dan tuwed pada mulanya. Engkau diperkenankan melaksanakan upakara kematian( pralina ngentas) tetapi yang boleh kamu selesaikan upakaranya hanyalah orang—orang Baliaga saja, Anakku Mpu Dryakah kelak apabila engkau sudah meninggal dan diupakarai oleh anak cucumu, upakaranya tidak boleh diselesaikan oleh Brahmana. Kamu cukup memohon di kawitanmu (kahyanganta) sebab asal usulmu bukanlah dari manusia. Apabila anak cucumu telah selesai mengupakarai jasadmu, engkau diperkenankan melakukan pitra yadnya sebanyak tiga turunan, dan setelah tiga turunan barulah sang resi Siwa Bhudha diperkenankan menyelesaikan (muputang) upakaranya. Ingat dan beritahukanlah petuah—petuahku ini kepada seluruh keturunanmu karena amat berbahaya apabila kena kutukanku’. Demikianlah sabda Mpu Mahameru kepada sisyanya disertai sembah sujud Mpu Dryakah dihadapannya.
Disamping itu Mpu Mahameru memperingatkan kepada orang Baliaga bahwa kelak apabila diantara mereka ada yang hendak melaksanakan upakara pitrayadnya, mereka diperkenankan membakar jasad, (mabya geseng ) dan setelah dibakar diperkenankan menanam kembali. Itulah yang disebut wangsa Krama Tambus yang penyelesaian upakaranya dilaksanakan oleh Mpu Dryakah. Sebagai kelanjutannya mereka diperkenankan juga melaksanakan upakara matres dan matuwun.

Kepada keturunan Ki Barakan yang berasal dari tanah liat diperingatkan oleh Mpu Mahameru bahwa keturunan mereka diperkenankan membakar jasad dan menanamnya kembali. Keesokan harinya mereka diperkenankan melakukan upakara ngirim yaitu membuat symbohis orang—orangan di atas kuburannya dan apabila ada yang hendak melanjutkan dengan upakara matres dan matuwun tidak dihalangi. Mpu Mahameru menegaskan. apabila mereka hendak bercakap—cakap dengan Bhujangga Mpu Bendesa Dryakah, mereka harus menyebut beliau Jro Gede sebagai panggilan penghormatannya.

Ditambahkannya setelah Mpu Mahameru memberikan penje1asan kepada Wong Baliaga, untuk lebih sempurnanya keutamaan (kahotaman) Mpu Bandesa Dryakah, Mpu Mahameru kembali menganugrahkan Sanghyang Aji Sehingga pikiran (ajnanan) Mpu Dryakah makin terang Sejak saat itu nama beliau diganti menjadi MpuKamareka. Tidak lama setelah menganugrahkan Sanghyang Aji serta memberikan petuah—petuah kepada Wong Bali aga, Mpu Mahameru meninggalkan Tampurhyang melanjutkan perjalanan menghadap Bhatara Putrajaya di Tolangkir serta Hyang Kamimitan Bhatara Ghnijaya di gunung Lempuyang. Selama di Bali dan bekerja sama dengan Bhatara Tri Purusa, Tolangkir, Lempuyang dan UlunDanu yang dibantu oleh Wong Baliaga di bawah pimpinan Mpu Kamareka, beliau membuat beberapa kahyangan-kahyangan lainnya. Hal inilah yang menyebabkan keberangkatan Mpu Mahameru ke Jawadwipa mengalami hambatan.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s