Memaknai Babad/Prasasty Bag.9


Diceriterakan setelah Mpu Kamareka moksa Mpu Ghni jaya Mahireng beserta saudara—saudara dan cucunya berkumpul membicarakan petunjuk yang telah disampaikan Sang wuwus lepas yaitu agar segera melaksanakan upakara pitrayadnya Hari Rabu, mahadewa, kresna paksa ping 15, sasih badrawada mereka mengundang para pandita yang disebut Sanak Pitu agar datang ke Songan menyaksikan upakara pitrayadnya yang akan diselenggarakannya. Upakara berlangsung dengan meriah, gambelan selonding ditabuh sehingga menambah khikmatnya upakara tersebut. Mpu Ragarunting dan Mpu Kaywan mamutru. Mpu Ketek ayoga tasik wedana, Mpu Witadharmma melaksanakan reg weda, Mpu Panarajon ngastawa wedana. Amatlah meriahnya upakara di atas, suara genta bergema bagaikan suara kumbang sedang mengisap bunga. Demikianlah suasana pitrayadnya yang dilaksanakan oleh Mpu Ghnijaya Mahireng dan setelah upacara berakhir para tamu pun kembali ke tempatnya masing—masing.

Oleh karena upacara pitrayadnya telah dilaksanakan selanjutnya Mpu Ghnijaya Mahireng beserta anak cucunya membangun kahyangan sesuai dengan petuah sang wuwus lepas yaitu :

1. Di Jeroan.

a. Sanggar agung pangastawan Bhatara Hyang Suci yang berabiseka Sanghyang Taya.

b. Gedong Tn Purusa tumpang t1u, pangastawan Bhatara çiwa, Sada Siwa, Parama Siwa yang juga disebut Sanghyang Tiga Yadnya.

c. Gdong tumpang dua, pangastawan Bhatara Hyang Brahma dan Hyang Wisnu.

d. Kemulan rong telu, pangastawan Sanghyang Tn Purusa, Brahma Wisnu, Içwara rikala atma tiga.

e. Bebaturan rong dua pangastawan Sanghyang Akasa bertemu dengan Sanghyang Ibu Pertiwi disebut juga, Ibu, Bapak yang menimbulkan amerta siwaiba ( Dwipala).

2. Di Madya : Pesamuhan agung untuk Bhatara semua.

3. Di Jabayan.

a. Bebaturan rong dua, lanang wadon pangastawan Hyang Kawitan.

b. Bebaturan rong t1u, pangastawan.Sanghyarig tiga sakti.

c. Sedahan taksu apit lawang.

Seluruh pelinggih kahyangan di atas selesailah sudah dibangun serta upakara anyapuh, pamelaspas, ngenteg linggih segera dilaksanakan. Tidak lama kemudian pohon asam hitampun tumbuh di kahyangan tersebut sehingga sejak saat itu pura tersebut dinamakan pura Kayu selem yang juga merupakan suatu pertanda Mpu Kamareka telah berbadan sakala niskala.

Sesuai dengan petuah Hyang Kawitan oleh karena pelaksanaan upakara telah selesai, sebagai pertanda kebenaran (kesujatian) kahyangan dibangunnya, didirikan pula sebuah kahyangan disebut pura Jati yang menjadi junjungan penduduk pulau Bali.

Selesai.

Disadur dari : Buku Babad Pasek Kayu Selem yang ditulis oleh PUTU BUDIASTRA dan WAYAN WARDHA

Kirang Langkung Ampurahyang.

Suksma.

Jro Mangku Djaman


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s