Memaknai Babad/Prasasty Bag.7


Diceriterakan sepeninggal Mpu Mahameru diBali, Mpu Kamareka kembali beryoga di gunung Tampurhyang yaitu pada suatu tempat yang agak tinggi bernama Gwa Song. Beliau melaksanakan yoganya dengan taat dan tekun sesuai dengan petunjuk yang diterima dan Mpu Mahameru. Dalam melaksanakan tapa, beliau tidak makan maupun minum kecuali memusatkan pikiran (ngranasika ) menghadap ketimur selama satu tahun empat hari, menegakkan Sanghyang Ongkara Mantra di dalam hatinya. Berkat kekuatan yoganya maka turunlah paduka Bhatara Brahma dari alam sunya menganugrahi Mpu Kamareka. Bhatara Brahma bersabda “Hai kamu Mpu Kamareka sungguh amat kuat yoga semadimu menghormat kepadaku. Sekarang trimalah anugrahku kepadamu tatwa dyatmika, bentuk tak berbentuk. Begitu pula aku berpesan kepada mu bahwa apabila nanti ada seorang perempuan cantik datang kepadamu mencari tirtha kamandalu, banu pawitra, itulah anugrahku sebagai istrimu dan nanti apabila kamu melahirkan keturunan dengannya berilah ia nama Mpu Ghnijaya Kayu Ireng. Demikianlah anugrah Bhatara Brahma maka Mpu Kamareka menghaturkan sembah.
Tidak hanya sampai di sini bahkan setelah beliau menerima anugrah Bhatara Brahma, Mpu Kamareka kembali beryoga memusatkan pikiran dihadapan api perasapan, Asapnya membubung ke atas, bau yang harum sampai ke sorga. Gemparlah seluruh widyadara dan widyadari para dewata serta para resi gana yang ada di sorga. Dari awang—awang keluarlah Bhatara Sanghyang Acintya disertai hujan bunga dan bersabda : “Wahai Kamareka walaupun kamu seorang Mpu dan keturunan sudra (kula wangsa) tetapi tidak terhingga betapa teguh yoga Semadimu, Sekarang ada anugrahku kepadamu tirtha kamandalu, banu pawitra. Terimalah tetapi janganlah ditekeburkan, simpanlah baik—baik dalam hatimu.Tak lama kemudian lenyaplah Bhatara diiringi weda pujaan Mpu Kamareka. Bertambah tambah kegembiraan Mpu Kamareka berkat anugrah Sanghyang Aji yang telah sampaikan kepadanya.

Diceriterakan Dadari Kuning diperintahkan Bhatara Indra ke Tampurhyang untuk menjadi jodoh Mpu Kamareka. Setibanya di Gwa Song Dadari Kuning dilihat oleh Mpu Kamareka seraya disapanya, “Wahai wanita cantik yang tak ubahnya seperti Dewi Gangga, dan manakah tuan putri sehingga sampai di sini di tengah hutan yang lebat serta siapakah sebenarnya tuan putri ini ? Siapakah orang tua anda,kalau boleh ceriterakanlah kepada hamba segera”. Menjawab Dadari Kuning, “ Hamba ini adalah seorang bidadari dan Indraloka, membuang— buang langkah ke Bali hendak mencari tirtha pawitra. Tetapi oleh karena hamba melihat sebuah sinar gemerlap, hamba memutuskan menuju sinar tersebut. Itulah sebabnya hamba sampai ke tempat ini”. Mpu Kamareka menjawab : “Baiklah hai wanita cantik yang tak ubahnya sebagai Dewi Ganggà. Apakáh maksud tuan putri mencari tirtha pawitra ? ”. Wahai Sang Maha Mpu dahulu pada waktu hamba di sorga loka hamba merasa khawatir terhadap para watek gandharwa yang selalu mendesak dan memaksa hamba untuk menjadi istrinya. Itulah sebabnya hamba pergi dan sorga, pergi tanpa tujuan untuk membersihkan diri dan akhirnya bertemulah hamba dengan Sang Mahamuni di sini. Mpu Kamareka berkata : “Báiklah andaikata demikian,apabila tuan putri tidak berkeberatan marilah kita bersama—sama menanggung kesengsaraan di hutan belantara ini. Dadari Kuning menjawab : “Aduhai Sang Mahamuni teringatlah hamba pada perintah Bhatara dahulu menyuruh hamba turun ke dunia, Mungkin benar inilah jodoh hamba, Yah apabila Maha muni tidak berkeberatan tuluskanlah belas kasihan Mpu ngku kepada hamba. Mpu Kamareka tertegun tidak bisa menjawab permohonan Dadari Kuning oleh karena suka citanya, pilu bagaikan disayat hatinya,Akhirnya beliau pun menjawab dengan gregetan : Aduhai buah hatiku tidak lain hambalah jodohmu, Teringat hamba kepada sabda Bhatara báhwa bidadarilah tuanku, tidak sabar sudah kakandamu menantikannya”. Dadari Kuning menunduk, dipangku, dibelai oleh Mpu Kamareka dengan gregetan seraya berkata : “Aduhai idaman hatiku, terus kanlah kasih sayangmu kepada hamba, bersama menderita di dalam hutan, Kakandamu tidak akan menentangmu walau pun sampai tujuh kali menjelma kanda akan selalu menyertaimu”. Dadari Kuning menjawab dengan berlinangkan air mata “Wahai Mpu-ngku janganlah demikian tergesa—gesa Mpungku. Siapakah yang tidak akan bergembira apabila Mpungku berbahagia bersama hamba. Tetapi permintaan hamba apabila perkawinan telah terlaksana Mpungku tidak boleh menolak segala permintaàn hamba sebab demikianlah tata krama di sorga loka. Menjawab Sang Mpu Kamareka “Baiklah kalau demikian,kanda akan mematuhi permintaanmu, Janganlah ragu—ragu terhadap hamba. Kemudian merekapun kawin dan bersama sama mengecap kebahagiaan orang bersuami istri.
Entah berapa lama mereka bersuami istri,lahir dua orang anak laki perempuán yang amat cantik rupanya. Tidak terhingga betapa gembiranya Mpu Kamareka beserta istrinya. Kedua putra putri beliau diupacarai sesuai dengan upakara yang telah berlaku. Kedua putra putrinya diberi nama Ki Kayu Ireng dan Ni Kayu Ayu Cemeng. Ketika keduanya telah dewasa Ki Kayu Ireng berkata pada ayahndanya “Wahai ayahnda oleh karena anaknda sudah dewasa dan di gunung demikian dinginnya ka1au boleh hamba ingin mencari seorang istri, ayah anda”. Sang Maha Mpu menjawab “Anakku Kayu Ireng baiklah tetapi yang patut engkau jadikan istrimu tidak lain adikmu Ni Kayu Ayu Cemeng sebab ialah jodohmu semenjak engkau berada di dalam perut. Hanya saja sekarang masih menunggu hari yang baik untuk melangsungkan upakaranya. Akhirnya ketika tiba waktunya Ki Kayu Ireng dikawinkan dengan Ni Kayu Ayu Cemeng serta setelab dibaptis (apodgala) Ki Kayu Ireng berganti nama Mpu Ghnijaya Mahireng.
Selanjutnya pada .waktu Mpu Mahameru pergi ke Bali menghadap Bhatara Putrajaya di Besakih dan Bhatara Ghnijaya di Lempuyang beliaupun tidak lupa singgah di Tampurhyang menemui Mpu Kamareka. Beliau disambut Mpu Kamareka dan istrinya sesuai dengan penyambutan para pendeta yang lazim dilaksanakan. Pada kesempatan ini Mpu Kamareka diberi petuah agar tetap taat melaksanakan apa yang telah dianugrahkan kepadanya. Ditegaskan bahwa sejak saat itu Mpu Kamareka rumawak ksatriya Brahmana selama tiga keturunan saja dan setelah itu kembali menjadi kulawangsa (sudra). Para pratisentana Mpu Kamareka dimanapun mereka berada agar tetap menjaga gagaduhan yang telah dipaparkan.Sebaliknya apabila ada yang melanggar gagaduhan tersebut mereka dikutuk agar menjadi wong tani cingkrang Pada waktu meninggalnya tidak boleh upakaranya dilaksanakan oleh brahmana atau dibakar sebab mereka di anggap bukan ketürunan Mpu Kamareka. Sedangkan bagi mereka yang taat melaksanakan gagaduhan di atas disebut wong tani dan setelah tiga turunan menjadi Arya Pasek Kayuselem. Demikian pula mereka yang sudah dianggap akhli menjalankan tata agama diperkenankan mujanggain tetapi batasnya hanya tiga turunan dan Setelah itu surud kembali. Kelak apabila ada keturunanmu hendak membakar jasad leluhur apabila belum ada brahmana di Bali yang lahir dari keturunan Mpu Ghni jaya, keturunan beliau yang disebut Jro Gede diperkenan kan menyelesaikan upakaranya. Sekarang anakku diperkenankan melaksanakan penyelesaian (muputang) jasad orang—orang Baliaga semua, Sebelum Mpu Mahameru kemba1i ke Jawadwipa beliau tidak lupa menganugrahkan Sanghyang Aji kepada Mpu Kamareka. Sepeninggal Mpu Mahameru, Mpu Kamareka memberi petuah kepada putranya sesuai dengan petuah yang beliau terima dari Mpu Mahameru. Antara lain oleh karena telah banyaknya keturunan Mpu Kamareka ditekankan agar pratisentanan beliau tetap menjaga gagaduhan dan harus aguru sisya dengan keturunan Bhatara Ghnijaya yang disebut Sanak Pitu. Walaupun mereka bersaudara, oleh karena asal penjelmaan mereka berbeda maka ditegaskannya keturunan Mpu Kamareka harus menghormati dan menyembah keturunan Sanak Pitu. Keturunan Mpu Kamareka tidak diperkenankan saling ambil mengambil (silih alap) dengan ke— turunan Sanak Pitu. Tetapi apabila keturunan Sanak Pitu berkenan, mereka boleh mengambil keturunan Mpu Kamareka, Keturunan Sanak Pitu tidak diperkenankan menyembah keturunan Mpu Kamareka tetapi keturunan Mpu Kamareka harus menyembah keturunan Sanak Pitu sebab méreka pernahsisya dengan Bhatara Ghnijaya. Seandainya keturunan Mpu Kamareka meninggal jasadnya tidak boleh dibakar agar asapnya tidak membubung lebih atas dan pura Panarajon, pura Ulun Danu, pura Tegeh serta gunung Tampurhyang.. Bhatara tidak menginginkan kahyangañ beliau diliputi asap mayat yang amat kotor (leteh). Untuk mengatasi hal ini mereka hanya diperkenankan melaksanakan upakara penguburan ( mabya tanem ).


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s