Memaknai Babad/ Prasasty Kawitan Bag.5


Pada waktu itu diceritakan pula Pulau Bali amat tenangnya, namun para Bhetara yang bersemayam di Bali masih merasakan adanya kekurangan sebab walaupun telah banyak dibangun tempat-tempat suci ( Khayangan ), Bali masih amat lengang karena tidak ada manusia hidup di Bali yang menyungsung dan menghormati para Bhetara. Itulah sebabnya Bhetara Ghnijaya dan Bhetara Catur Purusha sepakat menghadap Bhetara Hyang Pasupati ke Jambu Dwipa untuk mengutarakan maksudnya. Oleh Bhetara Hyang Pasupati maksud diatas dipenuhi dan untuk ini Beliau disarankan menunggu di Besakih saja. Bhetara Hyang Pasupati ( Pramesti Guru ) dengan diiringi oleh para Dewata semua, Rsi Gana, Dewa Sanga serta seluruh yang ada di Sorga beramai-ramai turun ke Bali. Dalam perjalanan Beliau Bhatara Parameswara ( pasupati ) mengendarai Padma Manik Anglayang diapit Payung serta umbul-umbul. Sedangkan para Dewata lainnya mengndarai Wahana mereka masing-masing. Bergema suara gentanya serta bergemuruh suara diangkasa diiringi Keplug dan sebagainya. Setibanya di Tolangkir beliau dsambut oleh Bhetara Putra Jaya, Betara Ghnijaya serta Bhetara Catur Purusha sesuai dengan Penyambutan dan penghormatan yang berlaku lalu langsung menuju Tampurhyang. Kemudian Bhetara Pramestiguru bersabda : : “anakku Deata Semua sekarang siapkanlah segala keperluan agar segera tercipta Manusia yang kalian kehendaki, Kamu Hyang Iswara hendaknya menyusup di Otot, Hyang Mahadewa di Sumsum, Hyang Wisnu di Daging dan kamu Sangkara serta Rudra pada Pabwahan ( Ginjal )”.

Ketika semua telah siap menghadap Perasapan (Kundagni), tiba tiba datanglah Bhetara Yamadipati berwujud seekor anjing hitam hendak menghalangi maksud Bhetara Pramesti guru yang dengan angkuhnya Anjing Jelamaan Bhetara Yamadipati berkata : “Hai Paduka Bhetara Pramesti Guru sekarang Paduka hendak menciptakan manusia dari tanah, Mustahil maksud tersebut akan terlaksana, Andaikata benar tercipta manusia, hamba sanggup makan kotorannya, Mendengar ucapan ini dengan murkanya lalu Bhatara Pramesti Guru menjawab : “Hai Yamadipati yang angkuh apa katamu ? Besar amat kesanggupanmu terhadapku, Yah andaikata maksudku tidak terlaksana, aku bukanlah dewa dan seluruh dewa—dewa, Patutlah diriku ditenggelamkan ke dalam kotoran”. Bhatara Pramesti Guru kemudian beryoga.. Api perasapan berkobar, asapnya keluar lalu terwujudlah muka manusia, Tetapi tiba—tiba penjelmaan manusia itu patah, diiringi dengan suara gonggongan sang anjing …. kong kong kong karena kegirangan. Bhatara mengulangi yoganya, Untuk kedua kalinya manusia ciptaan beliau patah, Sang anjing amat bergembiranya serta menggong—gong suaranya kong kong kong, Bhatara tidak putus asa dan mengulangi yoganya, Untuk ketiga kalinya Bhatara Pramesti Guru gagal menciptakan manusia, disertai gonggongan sang anjing king… King… Sampai lima kali Bhatara beryoga selalu mengalami kegagalan, Akhirnya beliau merasa berang dikalahkan dan diejek o1eh anjing. Dengan segala kesaktiannya beliau menyatukan tiga dunia (Triloka). Api perasapan kembali berkobar, dunia bergoncang, keluarlah amerta disertai terjelmanya manusia ciptaannya. Ketika itu tercenganglah sang anjing terkejut menyaksikan manu sia ciptaan Bhatara. Bhatara Hyang Pramesti Guru : “Sekarang kalahlah kamu, hai anjing. Ingat mulai sekarang anjing harus memakan kotoran manusia”. Amatlah malunya Bhatara Yamadipati mendengar kutukan tersebut dan tanpa memberikan jawaban, menangis serta menyesal atas perbuatannya lalu pergi ke Yamadiloka. Di Yamadiloka ia mengumpulkan seluruh cikrabala terutama si Bhuta Kalika serta pàra Kingkara bala Lainnya dan berkata :“Hai para balaku semua aku perintahkan kamu agar turun ke madyaloka untuk menggantikan diriku memakan kotoran manusia mulai sekarang sampai seterusnya sebab aku kalah hertaruh dengan Bhatara Acintya, Itulah sebabnya aku memerintahkan kepadamu menggantikan diriku menjadi anjing di madyaloka”. Tetapi petuahku kepadamu, kelak apabila sudah saatnya manusia itu mati, disanalah kita bersama-sama menyiksa roh manusia yang berlaksana tidak pantas selama hidupnya di madyaloka. Itulah asal mula nya mengapa anjing memakan kotoran manusia.
Selama Bhatara Hyang Pramesti Guru di Tampurhyang beliau juga menciptakan manusia dari serabut ( toktokan) kelapa gading sehingga terjelma dua orang manusia laki perempuan yaitu Ki Ketok Pita dan I Jenar. Oleb karena keduanya buncing ,mereka dikawinkan dan menurunkan keturunannya.

Tidak hanya sampai di sini saja,Bhatara Pramesti Guru dengan yoga semadinya berusaha menciptakan manusia lainnya. Dan payogan beliau ini lahirlah dua orang manusia 1aki perempuan pula yaitu Ki Abang dan I Barak. Keduanya bersuami istri dan pindah, menetap di tepi danau yang sekarang disebut desa Abang. Ciptaan manusia yang berasal dari sumber yang berbeda beda ini melahirkan keturunannya dan menambah banyaknya manusia di Bali, namun biji mata mereka semuanya hitam tanpa ada putihnya. Mengingat makin banyaknya manusia diBali tetapi masih awam dan tidak dapat melakukan pekerjaan se patutnya, Bhatara Hyang Pramesti Guru mengutus para dewä lainnya untuk mengajarkan manusia membuat alat alat dan bercocok tanam. Hutan di Tampurhyang dibakar dan ditebang dijadikan ladang agar dapat ditanami oleh manusia. Bhatara Indra diutus mengajarkan manusia mesesanggingan (ukir mengukir). Bhagawan Wismakarma mengajar ngundaginin (membuat bangunan) dan sebagainya.

Hubungan para Bhatara dengan manusia sangat eratnya. Mereka dapat bercakap dan saling melihat Sebagaimana kita melihat teman lainnya. Namun hubungan ini tidaklah terlaksana abadi sebab suatu godaan tiba tiba muncul saat itu. Diceriterakan bahwa sebagaimana biasanya para Bhatara sering berjalan jalan di Tampurhyang melihat dan mengawasi orang—orang desa dalam melaksanakan kewajibannya. Tidak jarang pula mereka be cakap—cakap dengan intimnya membicarakan situasi disekitarnya. Pada suatu senja Bhatara berkehendak pulaberjalan—jalan melihat tanam—tanaman yang dikerjakan manusia. Ditengah jalan beiiau bertemu dengan manusia. Manusia itu menyapa dengan hormatnya sambil buang air dan menanyakan hendak kemana paduka Bhatara di sore hari. Kebetulan pada waktu itu si Balwan (Bunglon ) melihat peristiwa ini. Dengan marah dan angkuhnya si Balwan berkata : “Hai kamu manusia, sungguh kamu tidak senonoh, amat durhakamu, Benar—benar kamu tidak mengenal budi pekerti, Dimana kamu menemukan aturan yang menjelaskan bahwa kamu boleh menyapa Bhatara sambil buang air ? Pantaslah kamu manusia herasal dari tanah dikepal kepal”, Manusia itupun menjawab : “Ih kamu Balwan apa katamu ? mengungkap_ ungkap asal usulku, benar—benar kamu tidak tahu adat (nirgama), berpura—pura akhli dan taat kepada tata susila, Pantaslah asal usulmu kumatap—kumitip yang diselimuti oleh kotoran, Dasar kamu ini, berpura—ura alim, mengapa kamu keberatan sedangkan Bhatara sendiri tidak merasa tersinggung”. Si Balwanpun menjawab : “Hai kamu manusia yang dungu, moga—moga kamu menjadi hina dina, Semoga kamu menjadi orang dusun untuk seterusnya atas dosamu menyapa dewa, Amatlah dengkinya si Balwan seraya berkata kepada Bhatara dan mengasutnya, Bhatara lalu memanggil seluruh manusia yang ada dan setelah berada dihadapannya, mereka dipérintahkan mendelikkan matanya sambil memandang Bhatara. Mata mereka dicoret dengan kapur disertai kutukan : “Semoga hai kamu manusia, karena kamu bertindak yang tidak pantas kepadaku muiai saat ini kau tidak akan dapat melihat para dewata sampai seterusnya, atas dosamu menyapaku sambil buang air, Sapaku ini berlaku pula kepada keturunanmu, seandainya engkau ingin bertemu denganku, pada saat kematianmulah akan dapat meiihatku”. Demikianlah sapa Bhatara kepada manusia. Mereka menyembah kehadapan Hyang Bhatara yang tak henti—hentinya menyesali perbuatannya. Itulah sebabnya mengapa manusia di dunia tidak dapat melihat para dewata lagi.
Diceriterakan bahwa ketika mereka kembali ke gubuknya di tengah jalan mereka bertemu dengan si Balwan, Terjadilah perdebatan antara si Balwan dengan manusia, Mereka berseru : “Berbahagialah aku bertemu denganmu di sini, Sekarang aku akan menyampaikan kepadamu bahwa mulai saat ini sampai seterusnya aku akan menjadi musuhmu dan setiap keturunanku bertemu dengan keturunanmu mereka akan membunuh keturunanmu, Si Balwan lalu menjawab : “Hai manusia aku tidak akan menolak permintaanmu, Baiklah kalau demikian, tetapi ada permintaanku kepadamu yaitu apabila keturunanku bertemu dengan keturunananmu pada waktu kajeng kliwon, keturunanku akan membunuh keturunanmu dengan menjilat badan serta mata kakinya” Baiklah kalau demikian mulai sekarang beritahukanlah seluruh keturunanmu agar mereka tetap waspada terhadap perjanjian ini, Itulah sebabnya si Balwan dapat merubah diri sesuai dengan keadaan disekitarnya lebih—lebih apabila berada di daun kayu.

Pada salah satu bagian babad ini dijelaskan pula asal mula timbulnya pungkusan keturunan Tewel yang diuraikan sebagai penuturan di bawah ini. Seperti halnya para dewa—dewa lainnya Bhatara çiwa diutus oleh Bhatara Hyang Pramesti Guru untuk menuntun dan memberikan pelajaran kepada orang—orang yang ada di Bali, membuat bale papayon agar dapat ditiru ôleh orang—orang Baliaga. Dalam perjalanannya beliau menjumpai tuwed nangka sisa—sisa hutan yang terbakar waktu membuat lading, Melihat tuwed nangka ini lalu terbitlah keinginan beliau untuk memperbaik i dan memperhaluskannya sehingga berbentuk manusia, Bhatara çiwa dengan dibantu oleh Hyang Semara, beryoga dan menjelmakan manusia laki perempuan Sejumlah 1l9 orang. Mereka berpasang—pasangan dan menikah dengan saudaranya, Karena jumlah 119 salah seorang wanita diantaranya tidak mendapatkan jodoh dan tidak mau dimadu oleh saudaranya, Dengan perasaan kesal dan sedih berjalanlah ia tanpa tujuan Sehingga akhirnya sampai di tempat tuwed nangka yang diperhalus oleh Bhatara çiwa, Wanita ini merasa tertarik / jatub cinta kepada togog nangka dan sambil dielus—elusnya iapun berkata “Wahai arca penjelmaan Mona, benar—benar terkesan dihati hamba, Yah seandainya tuanku (togog), menjadi manusia, hamba akan sanggup dan bersedia menghamba, Suka duka hamba akan selalu mendampingi serta memenuhi segala kehendak tuanku. Demikian ucapan wanita itu seraya mengurut togog tuwed nangka sehingga karena seolah—olah telah berhubungan dengannya keluarlah spermanya. Atas kehendak Hyang Bhatara akhirnya perempuan itupun hamil Namun ia tidak henti hentinya berujar bermohon kepada Bhatara agar apa yang dicita—citakan terlaksana.

Selanjutnya datanglah Bhatära Brahma disertai Bhatara Semara seraya berkata “Hai kamu perempuan Baliaga dusun, apa kehendakmu sekarang ? Hendak bersuami dengan togog ? Perempuan itupun menjawab sambil menyembah “Wahai paduka Bhatara, hamba menyadari tetapi oleh karena besar kasih sayang hamba kepada tawulan ini, andaikata berkenan dihati Bhatara alangkah berbahagia perasaan hamba seandainya paduka Bhatara dapat menjelmakan tawulan ini menjadi manusia agar dapat hamba jadikan suami sampai seterusnya”. Bhatarapun menjawab “Hai kamu manusja andaikata demikian kehendakmu baiklah akan aku laksanakan segalanya”. Kemudian Bhatarapun beryoga sehingga tidak lama akhirnya tawuluan itu menjelma menjadi seorang pria yang amat tampan. Tidak terkatakan betapa gembiranya wanita dusun Baliaga itu, sebagai tidak di dunia perasaannya. Segera penjelmaan itu diayunnya, dipangku, dirangkul, dielus— elus karena suka citanya sehingga hampir saja keluar sanghyang tiga smaraturanya (sperma), Tercenganglah Bhatara melihat tingkah ]aku perempuan itu dan berkata : “Hai kamu manusia, amatlah tidak senonohmu, Sekarang terimalah kutukanku atas dosamu yang tidak tahu diri tidak sabar berkasih kasihan serta mengelus elus dihadapanku, Sedikitpun kamu tidak mengenal malu dan tidak mempunyai perasaan takut Semogalah kamu hai manusia selalu bertengkar, tidak serasi dalam keluargamu karena kawin dengan tuwed, Kelak apabila kandungan ini lahir semoga melahirkan gumatap—gumitip sejumlah 175 dan berbalik menjadi musuh manusia di dunia, Selanjutnya apabila kamu kembali melahirkan anak dengan si Tawulan dimanapun mereka berada agar bernama Ki Mangatewel sebab leluhurmu berasal dari kayu tuwed nangka.

Pada bahagian lain babad Pasek Kayuselem diselingi ceritra bertahtanya seorang raja bernama Detya Karna pati dengan abiseka çri Jayapangus yang berkeraton di Balingkang. Selama beliau memegang tampuk pemerintahan, Bali amat aman, tenteram dan segala usahanya selalu ber hasil, Sebaliknya ketika çri Jayapangus wafat, Bali kembali menjadi lengang sebab tidak ada raja yang membimbing penduduk Bali. Menyadari hal ini Bhatara Putra jaya, Bhatara Ghnijaya serta Hyang Catur Purusa bersama sama pergi ke Jambudwipa menghadap Bhatara Hyang Pramesti Guru untuk memohon, agar ada raja yang memerintah di Bali. Permohonan beliau dipenuhi dan sesuai dengan hasil pertemuan para dewa, diputuskan Mayadanawa turun ke Bali untuk memegang tampuk pemerintahan, Mayadanawa adalah anak Bhagawan Kasyapa yang kawin dengan Dyah Wyapara, Dari perkawinan ini lahir Mayadanawa yang menikah dengan Dewi Malini putri dan Hyang Anantabhoga dan beribu-kan Ni Dewi Danuka. Mayadanawa selama memerintah di Bedahulu didampingi seorang patih yang amat terkenal bernama Kala Wong dan pusat pemerintahannya terletak di Batànar ( Pejeng). Pada awal pemerintahan Mayadanawa pulau Bali tidak jauh berbeda dengan masa pemerintahan çri Jaya pangus yang berkeraton di Balingkang. Namun hal ini tidaklah dapat berlangsung lama sebab sifat loba,tamak angkara murka serta “Nyapa kadi aku” makin menyelubungi hatinya. Prabu Mayadanawa tidak ingat akan dirinya sebagai seorang raja yang harus mengayomi dan melindungi seluruh rakyat, Mayadanawa tidak ingat akan kebesaran Tuhan yang telah menjadikannya, Bahkan dengan tegas Mayadanawa menghalangi dan melarang rakyat menghaturkan sembah dan pemujaan Ida Sanghyang Widhi Waça. Rakyat Bali tidak diperkenankan sujud kehadapanNya sebab Maya danawa berpendapat, tidak ada yang lebih kuasa, kuat dan berpengaruh selain dirinya, Oleh karena itu tidaklah ada gunanya menghaturkan sajian kepada Ida Sang hyang Widhi Waça kecuali kepada dirinya. Tindakan di atas amat merisaukan para dewata sebab sejak saat itu rakyat Bali tidak ada yang berani menghaturkan sembah dan bakti kepadaNya. Mereka takut melakukannya, khawatir serta cemas dikenakan hukuman ataupun siksaan oleh Mayadanawa, Kegelisahan para dewata makin tidak dapat dibendung lagi, Akhirnya para Bhatara dan dewata di Tolangkir menghadap Hyang Pra mesti Guru, memohon agar Prabu Maya danawa yang mencemaskan penduduk Bali dimusnahkan dari madyaloka. Hyang Pramesti Guru memerintahkan para dewata para resi dan tidak ketinggalan Bhatara Indra agar turun ke Bali untuk melenyapkan raja Mayadanawa, Se tibanya di Bali terjadilah pertempuran yang dasyat antara bala tentara Mayadanawa dengan para dewata, Korban diantara kedua belah pihak berjatuhan dan pertempuran tetap berkobar dengan sengitnya, Bala tentara Mayadanawa terdesak, tidak kuat melawan serangan para dewata yang dipimpin Bhatara Indra, Mayadanawa dan Patih Kala Wong melarikan diri tetapi walaupun menyamar menjadi berbagai bentuk, penyamarannya tetap diketahui Bhatara Indra. – Mula—mula Mayadanawa menjelma menjadi pohon timbul, kemudian lari ke sorga menjadi seorang bidadari tetapi diketahui juga dan tak henti—hentinya dikejar Bhatara Indra. Perlu kami sampaikan bahwa pada Usana Bali dijelaskan banyak nama—nama desa yang dihubungkan dengan penjelmaan Mayadanawa dalam menyelamatkan dirinya dari kejaran Bhatara Indra. Misalnya tempat Mayadanawa menjelma menjadi busung (daun kelapamuda),disebut desa Belusung, Tempat Mayadanawa menyamar menjadi pusuh ( jantung pisang) disebut desa Paburwan, tempat Maya danawa menyamar menjadi batu besar sekarang disebut desa Sebatu, Menjadi manuk (burung) disebut desa Manukaya Tempat Mayadanawa menyamar menjadi padi disebut desa Tampaksiring dan terakhir sampailah ia pada suatu tempat dan menjelma menjadi padas (paras), Pada penjelmaan inilah akhirnya Mayadanawa dipanah oleh Bhatara, Indra sehingga menemui ajalnya, Tempat terbunuhnya Mayadanawa dan Patih Kala Wong kini dikenal dengan nama desa Toya Dapdap dan Pangkung Petas. Sedangkan darah Mayadanawa yang terus mengalir menjelma menjadi sungai yang sekarang dikenal dengan nama sungai Petanu.
Tersebutlah setelah Prabu Mayadanawa meninggal, arwahnya dapat kembali ke sorga sebab walaupun Maya— danawa telah berbuat jahat dan melarang orang—orang menghaturkan sembah kehadapan Sanghyang Widhi Waça pada waktu beliau di Madyaloka namun tetap dianggap sebagai seorang kesatria (puruseng rana) yang rela berkorban di medan pertempuran. Dewi Malini amat sedih ditinggalkan suaminya (Mayadanawa), Ia merasa ini sebab arwah suaminya dapat menetap di sorga dengan tenangnya, Itulah sebabnya Dewi Malini pergi ke Sapta Petala menghadap ibundanya Dewi Danuka, Mendengar pengaduan putrinya, Dewi Danuka tidak dapat memecahkan permasalahan tersebut dan mereka berdua pergi menghadap Dewi Wyapara, Dewi Wyaparapun tidak dapat mengatasi persoalan di atas. Akhirnya mereka berdua(Dewi Wyapara dan Dewi Danuka) pergi ke Indraloka menghadap Bhatara ,Indra serta memohon agar Mayadanawa dapat kembali menjelma menjadi raja di Bali. Oleh Bhatara Indra permohonan mereka dikabulkan tetapi dengan persyaratan bahwa sebelum Mayadanawa menjelma Ia harus beryoga semadi untuk melenyapkan segala dosa yang pernah dibuatnya. Ketika yoganya selesai dan segala dosa—dosanya lenyap Mayadanawa diperintahkan menjelma menjadi raja di pulau Bali. Penjelmaan beliau buncing (kembar laki perempuan) dan berabiseka çri Aji Masula Masuli.

Sejak saat kelahiran çri Aji Màsula Masuli, Bhatara Indra memberitahukan kepada seluruh penduduk Bali bahwa mereka tidak diperkenankan kawin dengan saudara kandungnya. Mereka tidak diperkenankan meniru (amada—mada) çri Aji Masula Masuli yang kawin dengan saudara kandungnya. Ditegaskan bahwa andaikata diantara mereka ada yang melanggar, mereka harus dibuang ke laut sebab dianggap mencemarkan negara (angletuhin gumi). Lebih—lebih apabila ada penduduk yang melahirkan anak laki perempuan (kembar buncing) seperti ke lahiran Dalem çri Aji Masula Masuli, mereka harus disingkirkan dan bertempat tinggal di dekat kuburan Selama 42 hari, serta untuk mengembalikan kesucian desa penduduk harus melaksanakan upakara pamalik sumpah, anyapuh untuk melenyapkan kekotoran (keletehan) desa.
Lebih jauh diceriterakan bahwa dari çri Aji Masula Masuli ini lahirlah seorang putra yang tampan serta ahli menjalarkan weda mantra. ,Putra beliau bernama Tapolung (Tapaulung) yang kemudian menggantikan ayahnda-nya menjadi raja di Bali dengan didampingi dua otang patihrya yaitu Pasunggrigis dan Kebo Iwa, Selama pemerintahan raja Tapolung pulau Bali tetap aman Seperti pada masa pemerintahan Sri Aji Masula Masuli………..lanjut ke bag 6


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s