Memaknai Babad/Prasasty Bag 8


Disamping Mpu Ghnijaya Mahireng, Mpu Kamareka melahirkan pula tiga orang putra yaitu Sang Made Clagi, Sang Noman Taruan dan Sang Ketut Kayuselem yang setelah dibaptis (apodgala) masing—masing berganti nama menjadi Mpu Kaywan, Mpu Nyoman Tarunyan dan Mpu Badengan. Seperti halnya Mpu Ghnijaya Mahireng ketiga adik beliau inipun menjadi Bhujangga di Bali. Dari Goa Song mereka berpindah dan beryoga semadi mencari tempat masing—masing. Mpu Kaywan berpindah dan beryoga di Panarajon, Mpu Nyoman Tarunyan pindah ke gunung Tuluk biyu di Blong yang selanjutnya disebut desa Taruñyan.
Sédangkan Mpu Badngan menetap di Gwa Song (Songan)’beserta kakaknya Mpu Ghnijaya Mahireng. Dan catur bhujangga ini melahirkan keturunan yang pada akhirnya saling ambil mengambil (silih alap) diantara mereka.
Dunia berputar terus, usia Mpu Kamareka makin bertambah lanjut dan masanya kembali ke alam sunya makin mendekat, Kini Mpu Kamareka sudah wreda, beliau menyadari bahwa tidak lama beliau harus meninggalkan anak cucunya. Oleh karena itu beliau memanggil seluruh anak cucunya untuk menyampaikan bahwa pada purnamaning kartika. beliau akan meninggalkan mereka kembali kepada Sanghyang Acintya. Pada kesempatan itu beliau berpesan bahwa apabila beliau telah meninggal agar anak cucunya membuatkan kahyangan mengukuhkan (ngadegang ) Sanghyang Tri Purusa beserta Hyang Bhatara lainnya dan khusus baginya agar dibuatkan Sebuah bebaturan sebagai pelinggihnya. Kahyangan tersebut harus dipelaspas, anyapuh serta melaksanakan piodalannya pada hari tileming kadasa. Seluruh keturunannya (Warga Pasek Kayuselem) agar melaksanakan upacara di atas dengan hikmat dan tawakal. Mereka yang tidak mau patuh kepada petunjuk beliau akan kena kutukan yaitu banyak kerja tetapi tidak menemukan pahalanya. Segala tindak perbuatannya tidak akan menemukan kebahagiaannya serta setiap akan muncul di akhiri dengan kegagalan (sugih gawe kurang pangan salampah lakunya tan amangguhaken ayu, mentik—mentik punggel). Selanjutnya apabila pada kahyangan tersebut tumbuh pohon kayu yang hitam warñanya, hal itu suatu pertanda bahwa beliau (Mpu Kamareka) telah berbadan sakala niskala, telah beradá di sisi Sanghyang Jagat Karana serta sejak saat itu berilah nama kahyangan tersebut pura Kayuselem. Seandainya di sini (di Gwa Song) telah tumbuh pohon beringin hal itu suatu pertanda bahwa Mpu Kamareka di alam sunya telah atirta gamaña. Dan sanalah beliau mendoakan seluruh keturunannya (Warga Pasek Kayuselem) yang taat dan patuh terhadap petuahnya tidak akan kurang sesuatu apapun. Hidup dalam kebahagiaan serta kepada mereka yang telah ahli menjalankan weda mantra diperkenankan melaksanakan upakara (manditanin) dan patut dihormati seluruh keluarganya.

Kini- tibalah purnamaning kartika, hari yang ditunggu—tunggu Mpu Kamareka bersiap—siap menuju sunya taya. Pada waktu itu seluruh wong Baliaga, para tamu terutama para warga Sanak Pitu diundang menghadiri dan menyaksikan perjalanan beliau ke alam niskala. Putra— putra beliau sang atur pandita yaitu Mpu Ghnijaya Mahireng, Mpu Panarajon, Mpu Tarunan serta Mpu Badng— an sibuk menyapa dan menyambut para tamu yang datang menghadirinya. Dauh 5, rabu, madhura, byantara, dadi, mahulun wurukung, guru mandala, mnga pada waktu itulah saatnya”Mpu Kamareka mengenakan pakaian serba putih tanda kesuciannya. Seluruh persiapan upakara telah disiapkan yaitu dupa, menyan, astanggi, tile gandapati serta seluruh alat—alat pemujaan lainnya berada di tempatnya masing masing. Mpu Kamareka dengan tenang dan tabah dituntun para putranya keluar menjumpai para tamu yang diundang nya. Kepada para tamu Mpu Kamareka berkata dengan hormatnya : “Amatlah berbahagianya hati kami sebab Seluruh maha pendeta telah datang ketempat ini,meluangkan waktu untuk memenuhi undangan kami, menyaksikan dan memberikan doa restu sebagai pengantar kami menuju alam sunyata. Kesemuanya itu benar-benar mengharukan dan menggembirakan hati saya sebab segalanya menandakan bahwa para Mpu benar—henar tulus, ikhlas kepada hamba. Menjawab para Mpu serta sisya beliau : “ Wahai adikku Sang Mpu, andaikata demikian maafkanlah kami sebab seolah—olah lupa mematuhi kehendak Sang Mpu. Kini kami akan selalu bersedia memenuhi dan mentaati kehendak adik Sang Mpu”, Mpu Kamareka berkata kepada para sisyanya : Aduhai para sisyaku semua, dengarkanlah sekali lagi petuahku apabila keturunanmu telah berkembang beritahukan pula kepadanya bagaimana cara melaksanakan upakara berkenaan dengan upakara kematian (ngaben). Andaikata diantara keturunanmu belum ada yang bisa mujanggain, salah seorang dan keturunan Sanak Pitu yang telah menjadi Bhujangga diperkenankan melaksanakan upakara di atas sebab demikianlah petuah yang telah aku terima dari Bhatara junjungan kita Bhatara Mpu Mahameru. Ingatlab segala nasehat—nasehat ku’. Jikalau ada keturunanku yang tidak mau mematuhi petuah serta nasehatku semoga kena kutukan, merosot, bodoh, banyak kerja tetapi tidak menemukan pahalanya. Lagi pula pada waktu engkau melaksanakan upakara kematian (ngaben) tetapi belum ada Bhujangga di Bali engkau diperkenankan nuhur tirta pangentas di kahyangan saja. Tetapi sebelum engkau nuhur tirta,berdoa dan mohonlah kehadapan Bhatara Jagat Karana serta Sanghyang Tri Purusa. Namun sebelum melaksanakan hal di atas beritahukankanlah kepadaku dahulu,(anging manira astawa rutnuhun) aku akan datang dari alam sunya membantumu memohonkan tirtha pangentas dan pabersihan. Kemudian jika Bhatara Tri Purusa telah menganugrahkan tirtha beritahukan pula kepadaku segera sebab dari sana aku bersama—sama Bhatara akan menganugrahkan tirtha panglambus. Adapun cara memohonnya pergunakanlah sangku tembaga, bahem. slaka, batil besi, dengan rerajahannya masing—masing. Tempat Sanghyang tirta berupa 3 buah periuk (payuk anar) tempat tirta pabersihan”. Para sisya mendengarkannya dengan tekun dan meresapkan petuah—petuah beliau ke dalam hati seraya menghaturkan sembah kepada sang kawitan. Ketika telah selesai memberikan petüah Mpu Kamareka beryoga dan dengan tenang moksa menuju alam sunyata.,,,,,,, lanjut ke Bag 9


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s